Catatan Harian

Hadirmu

Aku tak pernah habis fikir bagaimana semua ini bisa terjadi. Saat hal yang telah aku usahakan keras untuk kulepaskan justru semesta seolah melemparkannya kembali kepadaku meski keadaannya kini telah berubah.

Hidupku nyaris sempurna, saat pecahan-pecahan kaca itu mampu ku sapu secara perlahan tapi pasti. Walau tentu guratannya masih tetap ada dan tak akan pernah pudar. Hanya saja semesta dengan angin sebagai pasukannya menyapu kembali serpihan itu padaku.

Duniaku nyaris damai. Saat aku mulai menerima dan berteman dengan kisahku dulu yang amat teramat ku benci. Tapi kini semesta dengan gagahnya seolah menjungkir balikkan duniaku. Kembali menarikku pada garis merah yang sudah jauh ku tinggalkan.

Aku tahu beberapa pinta yang sama-sama pernah dipanjatkan tak pernah terkabul: dulu.

Kini, beberapa pinta yang dulu dipanjatkan mulai menemui celahnya untuk bermekaran.

Lantas aku harus bagaimana lagi? Meninggalkan tanpa merasa tersakiti yang sudah kulakukan hancur sudah.

Sedangkan kamu hanya tersenyum tanpa meninggalkan satu katapun untukku. Entah itu untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja atau memberi kabar bahwa aku tak harus menghiraukanmu lagi.

Dengan pinta dulu yang terkabul saat ini percuma, karena hati telah terkunci dan tak ingin bicara.

Hadirmu membuat kapalku kembali terombang-ambing. Dan hadirmu tak pernah memastikan apakah kapalku selamat atau tidak.

Karena melihatmu hidupku serasa kembali pada garis merah yang sudah lama kutinggalkan.

Dibawah sinar rembulan,

26/07/18

Ihat Azmi

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *