Catatan Harian

Selamat Jalan, Nak!

Dear My Student,
Hallo apa kabarmu disana? Tentu kamu baik-baik saja kan? Sudah tenang berada disisi-Nya semoga Allah menerima segala amal ibadahmu.
Nak, izinkan aku menulis tentang kisahmu dalam bentuk surat. Semoga surat ini dapat sampai kepadamu.
3 tahun yang telah berlalu, khoas kuning dan juga batik biru. Lalu kamu melanjutkan kembali disini, berganti menjadi khoas putih dan batik hijau. Genap sudah 1 bulan dari liburan yang telah usai. 26 September 2018.
Di hari itu,
Akan menjadi hari yang akan selalu ku ingat sepanjang hidupku nak, saat kamu mengatakan,
“Tenang kok ukhti, Hilma pulangnya enggak akan lama-lama. Bakal balik lagi kok.”
Lalu saat kamu hendak pergi dan lupa untuk mencium tanganku saat itu kamu berbalik kembali,
“Eh ukhti lupa, salim dulu.”
Masih dihari itu,
Menjelang terang berganti gelap dering sosial media tak henti-hentinya saling bersahutan meminta kepastian dari si pemiliknya. Sementara dering yang lain sudah memastikan bahwa kabar itu benar. Tetapi si pemilik masih ragu dengan kabar yang diterimanya.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Sesungguhnya kita milik Allah dan sungguh akan kembali kepada Allah.
Nak, sungguh aku terpukul mendengar kabarmu itu. Rengkekan pulang yang sering terlontar ternyata pertanda bahwa kamu akan pulang selamanya.
Nak, maafkan atas segala kesalahan yang kuperbuat. Maaf jika ucapku pernah menyakiti hatimu, maaf jika marahku membuatmu sempat merasa down, maaf jika aku belum bisa menjadi ukhti yang baik untukmu.
Nak, aku akan rindu bagaimana caramu memanggilku dari balik pintu,
“Ukhti Siti, ini sama Hilma.”
Senyum yang terpancar dengan deretan gigi yang rapi atau dengan wajah cemberut ditambah bibir dengan sedikit dikerucutkan.
“Ya, apa Hilma.” Kataku.
“Ukhti Siti, Ukhti Siti tau enggak?”
Dengan expresi wajah greget, pertanda kamu mengetahui sesuatu yang kamu kira aku tak tahu. Dan terkadang kamu selalu lebih tahu dari aku.
“Apa?” Jawabku.
Atau..
“Ukhti Siti sini gera, Hilma mau cerita.”
“Boleh, mau cerita apa?”
Maka aku akan membiarkanmu bercerita apapun yang ingin kamu ceritakan.
Nak, sungguh waktu ini terasa singkat. Mendengar kabarmu dihari itu membuatku sesak. Entah, entahlah. Aku merasakan ada sesuatu hal yang hilang dalam diriku. Jika menjelang shubuh aku selalu memanggil namamu, kini aku tak bisa lagi: hanya berisi kasur kosong dengan dinding bertempelkan Doraemon, kartun kesayanganmu.
Nak, hari ini aku dan juga teman-temanmu mengunjungi rumahmu. Jauh-jauh menahan tangis namun tak bisa kami tahan. Saat melihatmu terbujur kaku. Juga tangis yang terjadi padaku saat aku memeluk ibumu juga saat tubuhmu mulai dipangku untuk dikebumikan.
Nak, sesak rasanya. Sesak sekali. Maafkan aku yang cengeng nak, maaf. Maaf karena aku melanggar ucapanku sendiri, untuk tidak menangis.
Nak, selamat jalan kini ku ucapkan. Perih, cobaan, tangis, bahagia hidup didunia telah kamu selesaikan dengan rapih. Hijrah, katamu. Dan kamu telah berhasil mewujudkannya.
Nak, terima kasih untuk pelajaran hidup yang telah kau ajarkan padaku. Insya allah, kita akan berkumpul kembali di syurga-Nya.

Teruntuk Alm. Ananda Hilma Nur Huda
Dari Ukhtimu Yang Cengeng,

Siti Solihat

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *