Catatan Harian

Satu Minggu Yang Berlalu

Dear My Student,
Hai nak, bagaimana kabarmu disana? Hari ini adalah hari ke 6 dari kepergianmu nak. Dan aku mulai merasakan kehilangan yang sangat berarti.
Maaf nak, hari ini aku mengirimu surat kembali. Semoga kamu tak bosan ya. Aku ingin bercerita banyak padamu nak, tentang hal-hal yang mungkin dulu adalah hal biasa tapi kini menjadi kenangan yang menyakitkan untukku, kamu tahu kenapa nak? Karena kepergianmu sungguh memukul hatiku.
Nak, maaf nak. Sungguh maafkan aku. Maafkan aku yang sampai saat ini masih menangisi kepergianmu. Rasa sesak dalam dada belum juga hilang. Menjelang pagi datang, sore, dan juga malam. Terkadang kerinduan itu menyusup dalam dada. Apakah kamu merasakannya juga nak?
Hari ini entah mengapa rasanya rindu juga kenangan tentang mu terlalu sesak dalam dadaku. Tiap kali melihat pintu rasanya kamu sedang ada disana. Pergi membuka kunci ruanganmu, melihat kembali kasurmu yang kini tengah diganti posisinya oleh temanmu. Juga tempat-tempat yang selalu kamu singgahi sambil memanggilku,
“Ukhti Siti.”
Berat bagiku nak, sungguh berat. Melepaskan juga mengikhlaskan aku belum mampu untuk menghadapi itu. Maafkan aku nak. Apalagi ditambah kehadiran boneka doraemon milikmu membuatku menangis setiap kali memeluknya.
Nak, sore tadi bahkan perasaanku kacau balau. Entah harus berbagi pada siapa rasa kehilangan ini. Karena dari sebagian mereka tentu menganggapku berlebihan. Aku lebih memilih diam nak, membunuh rasa kehilangan ini sendirian. Atau sesekali sambil memeluk bonekamu aku menangis sendiri jika tidak ada yang lain. Dan sore tadi aku lebih memilih jalan-jalan keluar sendiri. Meninggalkan sejenak dari tempat kita sebelumnya. Tapi tetap saja, rasa kehilangan ini tak juga kunjung hilang. Aku harus bagaimana nak?
Nak, aku rindu. Aku rindu. Kehilangan ini membuat duniaku nyaris tak berimbang lagi. Tapi aku sadar nak, aku tak boleh larut dalam kesedihan ini terlalu lama juga dari kehilangan yang memilukan ini. Hidupku masih panjang dan cita-citaku harus tetap kukejar. Sebagaimana isi suratmu yang kamu tulis untuk terakhir kalinya,

Hidup tanpa ujian bagai pesta tanpa musik. Karena dengan adanya ujian akan semakin membuat hidup ini bergairah dan cita-cita tanpa rintangan sama artinya bukan cita-cita. Karena dengan adanya rintangan itulah, maka dia dikatakan cita-cita, dengan cita-cita hidup terasa berseni dan bergairah dari saat memejamkan mata sampai membuka mata dipagi hari, serasa dunia ini indah. Cita-cita itu, tidak pernah padam didalam hati orang yang senang menumpahkan keringatnya dan bekerja dijalan yang diridhoi-Nya.

                                                             Almh. Hilma Nur Huda

Selamat jalan nak, semoga aku bisa bermimpi bertemu denganmu. Setidaknya bisa sedikit mengobati rindu dalam hati.

Salam rindu dari,
Ukhtimu yang cerewet

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *