Catatan Harian

Perasaan Yang Ingin Disampaikan #Surat 3

Dear September,
Hallo! Lama tak menulis. Bagaimana kabarmu? Kabarku baik disini. Apakah kamu menanti kehadiran suratku? Hahaa, tentu saja tidak kan? Bahkan 2 suratku kemarin belum juga kamu balas. But, it’s ok. Never mind.
Jika tadi siang cuaca cerah dan juga panas, maka malam ini langit terlihat mendung. Walau tentu mendungnya langit malam tak bisa dilihat jelas. Tapi ya, bintang-bintang yang selalu tampak tersapu awan hitam. Dan beberapa rintikan mulai turun membuat malam ini kembali menghirupkan kenangan lama. Bau tanah hujan, berhasil kucium dan menghidupkan memori lamaku.
Hari itu, beberapa santri sudah menggunakan seragam barunya. Kecuali aku dan juga sahabatku yang masih menggunakan seragam smp. Belum selesai dijahit, itu alasannya. Sedangkan kamu sudah memakai seragam baru. Bel pulang sekolah berbunyi, aku dan sahabatku seperti biasa selalu pulang bersama dengan menaiki angkot. Kami harus berjalan sekitar 500m melewati gang kecil sebelum menaiki angkot. Di siang begini terik panas matahari begitu menyengat membuatku kehausan. Sesampainya dipinggir jalan bukannya langsung menyebrang untuk menyetop angkot, aku malah mengajak sahabatku untuk membeli es cendol yang berada tak jauh dari tempatku berdiri.

“Mang beli. ” Kataku.
“Kamu mau enggak?” Tanyaku pada sahabatku. Dan sahabatku hanya menganggukkan kepala.
“Jadi dua ya mang.” Kataku lagi sambil menengok kebelakang. Dan agak kaget juga ternyata ada kamu disana.
“Pulang?” Tanyaku padamu. Saat itu kamu sedang menunggu mobil untuk pulang. Memakai sweater hitam-putih dan duduk dipinggiran warung.
“Iya.” Jawabmu.
“Naik mobil ciamisan? Tuh mobilnya udah lewat.” Kataku sok tahu sambil menunjukkan mobil ciamisan. Maksudnya mobil kendaraan umum dengan jurusan Tasik-Ciamis.
“Bukan itu.”  Jawabmu lagi. Expresimu dingin sekali.
“Terus naik apa? Bus?”  Tanyaku lagi dan tak lama sebuah bus datang. “Itu bus.” Tunjukku.
“Bukan.” Jawabmu lagi. “Naik andalas.”  Lanjutmu.
” Apa andalas teh?” Tanyaku sambil mengerutkan kening.
“Sejenis mobil elep. Namanya andalas.”  Katamu.
“Oh iya.” Kataku. Sebenarnya aku tak mengerti maksudmu.
“Jauh rumahnya?”
“Iya jauh.”

“Neng ini cendolnya. Jadi dua ribu.” Kata mang cendol.
“Oh iya mang, makasih.” Kataku.
“Duluan ya. Assalamu’alaikum.” Aku berpamitan sambil senyum sementara itu sahabatku sedari tadi hanya diam lalu mengangguk padamu sebelum pergi.
“Wa’alaikum salam.” Jawabmu masih dengan expresi yang dingin.

Kamu ingat itu? Hahaa. Aku bawel juga ya. Tanya ini-itu lalu dengan sabar kamu menjawabnya. Dan dihari lain, saat kamu mengingatnya kamu selalu mengatakan bahwa saat itu sebenarnya kamu sudah jengkel dengan segala rentetan pertanyaanku. Dan kamu selau mengaitkannya saat kamu menggunakan sweater hitam-putih.

“Kalau pake sweater ini inget si Annisa pas awal-awal masuk nanya-nanya aja. Pulang?” Kenangmu padaku sambil mencibirku dengan kata Pulang?

“Apaan sih.”  Jawabku sambil berlalu meninggalkanmu dengan senyum tertahan.

Aku kira kamu sudah lupa, ternyata kamu mengingatnya. Barangkali saat ini kamu masih mengingatnya tidak?

Salam,

Annisa

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *