Catatan Harian

Perasaan Yang Ingin Disampaikan # Surat 4

Dear September,
Hai! Apa kabar? Kabarku disini tak baik. Teman-temanku selalu saja mengolok-olok perasaanku. Aku tahu aku kurang beruntung memang.
Tapi siapa coba yang berkehendak atas mengendalikan perasaan? Diriku sendiri? Mereka? Atau Tuhan? Maaf aku terbawa emosi. Aku harap kamu selalu baik-baik saja.
Betul katamu dulu, hidup itu keras penuh perjuangan. Bukan hanya soal materi yang dicari tapi juga bertahan dari ocehan-ocehan yang terkadang menyurutkan semangat. Ku akui aku memang bukan gadis yang berparas cantik, bertubuh ideal, berlimpahkan harta. Tidak! Aku bukan seperti itu. I’m just ordinary girl. Apa aku tak layak jika seperti ini? Rasanya aku minder sekarang. Aku juga masih inget kamu dulu suka begitu kan sama aku? Bela-belain bawa timbangan buat nimbang berat badan aku. Tapi rasanya kok beda ya? Sekarang lebih sensitif aja gitu.
Beban hidup rasanya menghimpit sekali. Aku jadi ingin kembali ke masa itu saat ini juga. Aku ingin tertawa bebas seperti dulu, dikelas karena melihat tingkahmu yang konyol. Atau aku ingin marah-marah, omel-omel sana sini karena kamu menjailiku. Sementara itu kamu akan tertawa karena berhasil membuatku marah. Deretan gigi putih juga mata yang sipit yang saat itu juga ku lihat. Dan moment ini yang selalu kurindukan. Melihatmu tertawa lepas.
Di awal-awal sekolah, setelah pulang sekolah itu kamu mulai memberanikan diri padaku. Dimulai dengan seringnya meminjam Al-Qur’an pink milikku, lalu lambat laun beberapa sifatku mulai terlihat. Berawal dari mengingatkanku untuk tidak tertawa terbahak-bahak, memberitahuku dengan isyarat jika rambutku keluar dari jilbab yang aku kenakan, bahkan coklat yang tersisa disudut bibirku kamu pernah menyuruhku untuk menyusutnya. Mungkin, karena seringnya kamu mengingatkanku terutama saat aku tertawa terbahak-bahak, membuatku kesal dan jengkel. Siapa kamu sih? Pikirku saat itu. Berani-beraninya ngatur hidup orang. Sampai suatu ketika aku marah padamu lalu kamu diam. Keesokan harinya kamu tetap tidak berubah, selalu mengingatkanku. Tapi kini dengan cara yang berbeda. Jika sebelumnya dengan cara halus, maka setelah insiden itu kamu menasehatiku dengan nada tinggi. Tapi tak kuhiraukan. Lalu akhirnya kamu mengucapkan satu hal padaku,

“I hate you!”
“I hate you too!” Balasku.

Tak sampai disitu rupanya dan itu baru permulaan. Sampai disetiap harinya kamu selalu berhasil membuatku kesal setengah mati. Jika pada awalnya aku tak begitu menghiraukanmu, kini aku mulai memikirkanmu bagaimana caranya agar aku bisa melawanmu atau menghindar dari kejailanmu. Lambat laun namamu tertulis dalam catatan harianku. Dan beberapa moment romansa hadir disela-sela perdebatan kita. Teman satu kelas bilang benci jadi cinta. Benarkah? Mari kita lihat isi surat selanjutnya. Semoga kamu tidak pernah melupakan moment saat kita bermusuhan sampai akhirnya….
Daahh.. Selamat malam. Aku sudah mengantuk. Di lain surat akan kuceritakan lagi.

With miss,

Annisa

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *