Catatan Harian

Perasaan Yang Ingin Disampaikan #Surat 5

Dear September,

Hai! Lama tak menulis, apa kabarmu? Kabarku sedang tak baik saat ini. Terlebih saat kemarin kamu memutuskan untuk tak mengantarkanku pulang. Sudah lah dari sana pupus sudah harapanku. Cemas padaku saja kamu tidak, bagaimana dengan perasaan yang lainnya? Kamu memang tidak mencintaiku bukan?
Membuka lembaran lama itu artinya aku mengoyak kembali luka lama. Tapi akhir-akhir ini entah mengapa semesta justru selalu mengingatkanku lagi padamu. Entah mungkin karena aku belum bisa melepaskanmu seutuhnya. Menyedihkan sekali bukan?

Masih di bangku 1 SMA. Aku yang sedikit berontak dan kamu yang terus-terusan mencari gegara agar aku dan kamu bertengkar. Jika semasa SMP aku adalah sosok yang alim, feminim, dan penurut, maka saat aku SMA, 180 derajat semuanya berbalik. Aku merasakan perubahan dalam diriku. Dan aku sadar, ini adalah sebagai bentuk protesku karena aku memang tak mau berada disekolah ini.

Jika pagi adalah hal yang selalu orang dambakan karena ingin segera mengakhiri mimpi buruknya, justru aku sebaliknya. Aku selalu ingin malam yang panjang, yang tak pernah berakhir yang kemudian memberhentikan mimpi indahku lalu berganti pagi. Karena pagi adalah mimpi buruk bagiku. Bisakah kamu bayangkan, seharusnya setiap pagi kamu disambut kedua orangtuamu dengan senyuman dan motivasi yang membangkitkan ini malah omelan dan teriakkan yang memekakkan telinga. Terkadang jika aku bangun lebih pagi maka jam 6 pun aku langsung berangkat dan tak mendengarkan omelan mereka. Atau jika aku bangun kesiangan sudahlah tamat riwayatku. Mau tidak mau telingaku harus menerima ocehan kedua orangtuaku. Posisiku salah kata mereka, aku terlalu sibuk dengan urusan sekolah sampai lupa untuk membantu mereka di pagi hari. Yap, aku memang egois dipagi hari.

Sama seperti dihari itu, aku terlambat ke sekolah. Aku sudah pasrah dengan konsekuensi hukuman yang akan didapat. Setelah diberi point, aku tetap harus menjalani hukumanku. Karena dihari itu petugas piketnya adalah guru olahraga, maka hukumannya juga olahraga.

“Lari 5 keliling.” perintah si Bapak. Aku hanya mengangguk sambil cemberut lalu turun menuju lapangan.

“Kamu dihukum lari juga?” Katamu membuyarkan lamunanku. Dan sontak aku kaget saat aku menyadari bahwa sedari tadi kamu sudah ada dihadapanku.

“Iya.” Jawabku pendek. Lalu aku dan kamu mulai lari mengelilingi lapangan. Kamu didepan dan aku mengikutimu dari belakang.

“Cih.”  Katamu mengumpat. “Kamu tuh ngikutin saya mulu. Saya kesiangan kamu ikutan kesiangan.” Katamu nyolot sambil menoleh ke arahku.

“Kepedean banget sih jadi orang!” Jawabku nyolot lagi.
Dan dihari itu entah mengapa yang mendapatkan hukuman lari hanya aku dan kamu saja. Meninggalkan beberapa cuitan dari teman-teman dibalik jendela kelas. Benar-benar membuatku jengkel setengah mati!

Setibanya dikelas, aku disambut lagi dengan omelan dari guru PKN. Lengkap sudah penderitaanku dipagi itu membuatku bad mood sepanjang hari. Sedangkan kamu? Kamu terlihat santai dan tak ambil pusing saat guru PKN menceramahi kita dihadapan satu kelas.

Selain mendapatkan hukuman karena terlambat juga sanksi point pelanggaran, ada beberapa hal lain yang menjadi peraturan tetap disekolahku yang tidak boleh dilanggar sama sekali. Salah satunya adalah membawa hp. Yup, disekolahku ketat banget soal hp. Kalau ketahuan bawa bisa berabe. Hp disita dan orangtua dipanggil. Tapi beda dengan kamu. Kamu benar-benar orang yang kebal hukum.

Bel istirahat ke dua berbunyi dan adzan dzuhur telah selesai di kumandangankan. Seharian itu aku enggan bicara banyak dan lebih memilih diam. Suasana kelas  sepi karena teman-teman yang lain sudah pergi menuju masjid untuk sholat dzuhur berjamaah. Dikelas yang tersisa tinggal aku, kamu, dan sahabatku. Dari belakang, aku curiga kenapa kamu hanya diam saja dan seperti sedang memainkan sesuatu. Aku tengok dari arah samping kiri belakang, dan rupanya kamu sedang memainkan hp.

“Malah bawa hp.” Rebutku dengan mudah dari arah belakang. Kini hpmu berada ditanganku.

“Nis, nis siniin nis. Balikin!” Jawabmu tegas sembari memperhatikan sekeliling takutnya ada guru yang lewat.

“Nis, bawa nis hpnya. Bawa. Geledah-geledah.” Ucap sahabatku sambil menghalang-halangi gerak tubuh juga gerak tanganmu yang ingin merebut hp dari tanganku.

“Bentar.”  Kataku santai sambil menekan beberapa nomor lalu ku telfon nomor itu. Tuutt… Suara telfon tersambung lalu segera kumatikan.

“Nis, nis. Jangan gegabah nis. Nisaa balikin nis!” Katamu gusar.

“Iya bentar.” Kataku. Lalu aku menulis namaku dikontak hpmu. “Aku udah simpen nomor aku dihp kamu.” Lalu aku menyerahkan hp nokia type 1112 black kepadanya. Sementara itu kamu menerimanya dengan wajah bengong.

“Udah dapet nomornya?” Tanya sahabatku dan aku hanya tersenyum.

“Duluan ke masjid.” Aku pamit padanya dan kamu masih menatapku dengan tatapan bengong.

Kalau difikir-fikir kenapa ya aku malah nyimpen nomor hp aku dihp mu? Aku juga aneh. Hahaa! Tapi setelah hari itu entah mengapa aku selalu menunggu sebuah notifikasi pesan khusus masuk dilist kontak masuk hpku.

Dari teman SMAmu,

Annisa

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *