Catatan Harian

Perasaan Yang Ingin Disampaikan # Surat 7

Dear September,

Hai! Nampaknya pagi ini bukanlah pagi yang menyenangkan untukku. Ditambah semalam aku mimpi buruk. Sama seperti hari itu, hari dimana kamu memberikan sebuah teka-teki untukku.

Hari itu hari Senin, upacara bendera dan kamu as usually come late dan pada akhirnya dihukum dengan berdiri dibarisan depan mengahadap keseluruh peserta upacara. Ada beberapa santri yang kesiangan, rata-rata wajah mereka menahan malu dan takut akan mendapatkan hukuman lagi. Tapi kamu berbeda, kamu terlihat santai dan masa bodo sepertinya. Dan ternyata benar, setelah beres upacara, santri-santri yang kesiangan harus mengepel dulu ruang guru dan ruang kepala sekolah. Huft, aku bersyukur aku tidak terlambat lagi hari itu.

Jam pelajaran ke 3 dihari Senin adalah jam yang sangat kami nantikan. Yap, tentunya bukan pelajaran Matematika yang bikin otak pusing tujuh keliling, karena jujur I hate Math! Pelajaran Teknologi, Informasi, dan Komunikasi atau yang biasa disingkat TIK. Nah kalau pelajaran ini pasti belajarnya dilab. komputer  dan kita suka rebutan komputer. Komputer yang tersedia jumlahnya hanya 20, sementara kelas kami berjumlah 24 orang. Artinya ada yang harus berbagi komputer dengan yang lainnya.

Seperti biasa aku selalu memilih komputer yang berada paling belakang, alasannya sih biar bisa bersandar ke dinding dan yang paling penting adalah orang lain enggak bisa ngintip dari belakang situs apa yang sedang aku buka. Eitss, aku enggak buka situs yang aneh-aneh ya. Kalau lagi on begini aku suka chek twitter dan facebook. Aku ingat sekali, kamu mengambil komputer yang berada di depan ku tapi disebelah kanannya. Tak lama teman-temanku yang lain ikut nimbrung dikomputermu, kamu buka akun facebookmu lalu memperlihatkan foto-foto mantanmu ke teman-teman yang ikut nimbrung disana. Sesekali aku cuma nengok aja dari tempatku, dan melihat kamu tersenyum penuh rasa bangga saat menceritakan mantan-mantanmu. Sampai akhirnya kamu menengok ke arahku dengan senyum mengejek. Karena penasaran diam-diam aku melihat nama akun facebookmu, sebelum aku add tiba-tiba kamu bilang,

“Udah lah, Nis enggak usah di add. Takutnya nanti kamu…” Katamu menggantung sambil senyum penuh arti.

Aku mengerutkan kening, apa maksudnya? Takutnya aku cemburu gitu? Ucapku dalam hati.
“Kegeeran banget sih! Siapa juga yang mau add facebook kamu!” Jawabku sewot dan nahan malu juga sebenarnya. Sementara itu kamu hanya tersenyum dan kembali melanjutkan cerita nostlagia.

Uuh, mantan-mantannya cantik semua. Dalam hatiku sambil melihat profi facebook kamu karena aku sebenarnya penasaran sama kamu. Tiba-tiba aku melihat nama itu didalam daftar pertemanan kamu.

Dia? Dia yang semalam kamu telfonan itu kan? Lalu aku melihat kearahnya dan betapa terkejutnya aku, ternyata diam-diam dia sedang memperhatikanmu dari balik komputer yang sedang dia mainkan.

Ada hubungan apa mereka sebenarnya? Apa mereka paca.. Aku berkomentar sendiri dalam hati sampai akhirnya tanpa aku sadari kamu sudah duduk manis dihadapanku.

“Woyaa.. Ngelamunin saya ya? Hahaa..” Sialan! Aku kaget sekali dan kamu tertawa melihat expresi yang tergambar jelas diwajahku. Dengan kalap aku buru-buru memencet ikon beranda sebelum tertangkap basah kalau sebenarnya aku lagi ngestalking akun facebook kamu.

“Mau ngapain kesini?” Tanyaku jutek dan kamu pindah posisi, duduk disampingku. Aku menoleh kearahmu sambil bergeser sedikit, Ya Tuhan. Kenapa aku harus gugup begini?

“Belagu banget sih main twitter kayak artis aja.”Omelmu.
“Hak asasi!” Jawabku ketus dengan pandangan tetap kearah layar komputer. Lalu aku sama kamu diam untuk beberapa saat. Dan aku sebenarnya risih karena kamu juga melihat halaman yang sedang aku buka.

“Bantuin saya dong. Saya dikasih tugas disuruh bikin power point.” Akhirnya kamu bicara lagi.
“Hemm..” Kataku sambil membuka tab baru. 
“Janji deh enggak akan ledekin kamu lagi. Kita damai.” Katamu dan berhasil membuat perhatianku teralih padamu.
“Bener?” Aku menatap kedua bola matamu.
“Bener. Tapi itu juga kalau kamu beres ngerjain power pointnya. Kalau enggak yaa…”
“Ok.Fix. Aku mau bikinin power point buat kamu.”
“Sekarang juga tapi,”
“Oke.”

“Ayo waktunya sebentar lagi,” Guru TIKku sudah memberikan peringatan.
“Sebentar pak, tanggung.” Teriakku.
Dan bel pun berbunyi. Shit!
“Ayo sudah bel tuh,”
“Bentar pak,” Aku mengeyel dan kamu masi duduk manis disampingku. Tiba-tiba baru juga mau ke slide dua, brepp.. Layar komputer menjadi hitam. Mati.
“Bapa ih kok dimatiin? Kan belum selesai.” Protesku.
“Waktunya sudah habis. Nanti lagi, minggu depan lagi. Ayo cepat ke kelas. Guru lain udah nungguin tuh!”

 Aku berjalan keluar dari Lab menuju kelas sambil cemberut. Lalu aku duduk dibangku sambil memasukkan buku TIK ke dalam tas.


“Perjanjian dibatalkan!” Katamu.
“Lho kok?”
“Iya lah, power point nya aja belum beres. Gimana sih!” Katamu dengan nada ketus yang menjengkelkan.
“Ya enggak bisa gitu lah. Waktunya kan habis.” Kilahku.
“Udahlah pokoknya sekalinya musuh tetap musuh.” Katamu.
“Oke. Jadi enggak usah minta tolong lagi sama aku.!” Jawabku dengan emosi.
“Huuhh dasar musuh!” Ucapmu sambil berjalan keluar kelas. Tak lama kamu berteriak dari ambang pintu kelas,
“I hate you!”
Aku menoleh, pasti ke aku kan? Coba kesiapa lagi kamu berani bilang begitu?
“I hate you too.” Balasku sambil berteriak.

Kamu benar-benar menyebalkan memang. Disisi lain kamu bikin aku kegerean tapi jauh dari itu semua kamu juga selalu membuat aku kesal setengah mati. Dan tanpa aku sadari, ternyata ada sepasang mata yang menatapku penuh kebencian.

Full of memorise,

Annisa

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *