Catatan Harian

Perasaan Yang Ingin Disampaikan #Surat 8

Dear September,

Hai! Sore ini hujan. Aku suka hujan dan hujan selalu mengingatkan aku tentang kamu. Kamu baik-baik aja kan? Aku harap begitu. Aku juga baik disini. Sambil memperhatikan rintikan hujan yang semakin deras.

Tak terasa waktu berjalan dan kita sudah berada di penghujung semester 1. Hari pembagian raport untuk yang pertama kalinya di masa putih abu, aku dan juga sahabatku optimis masuk peringkat 3 besar. Saat pengumuman peringkat 3 besar, nyatanya aku berada di urutan ke tiga. Dan aku kaget bukan main saat melihat isi raport ku ternyata ada nilai yang ditulis menggunakan pensil. Artinya nilai itu bermasalah dan belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Mininum). Pelajaran itu adalah pelajaran matematika. Aku malu plus kaget bukan main saat itu. Untuk pertama kalinya nilai raport ku seperti itu. Dan setelah itu aku mulai belajar matematika dengan sungguh-sungguh.

Bagaimana dengan nilai raport mu saat itu? Memuaskan atau cukup? Aku cukup sedih saat orang-orang bahkan guru-guru mulai mencapmu sebagai anak yang unik. Bahkan wali kelas rasanya mulai kewalahan dengan tingkahmu. Dimulai dari seringnya kamu terlambat sekolah, bukan sering lagi bahkan setiap hari kamu terlambat sekolah dengan berbagai alasan yang berbeda setiap harinya. Jarang mengerjakan tugas, tapi anehnha kamu rajin membawa buku pelajaran plus buku paketnya. Ulangan yang nilainya hanya do,re,mi,fa. Belum lagi dikelas kalau guru sedang mengajar kamu suka gangguin orang atau enggak tidur pulas. Tapi anenhnya kamu masih punya sopan-santun sama si guru. Kalau dimarahin ya diem aja cuek bebek, manggut-manggut. Tapi besoknya begitu lagi enggak pernah berubah.

Dia, yang saat itu mulai dekat dengan kamu. Oke, aku akan bercerita tentang dia dari versiku ya. Dia  yang ku maksud adalah Alita.

Dimataku Alita adalah sosok perempuan yang cantik, memiliki hidung yang mancung, pipi yang tirus yang menonjolkan tulang pipi saat tersenyum juga tinggi semampai dengan tubuh yang porposional. Memiliki pemikiran dewasa dan selalu anggun dalam bertingkah. Bukan seperti aku, yang katamu gendut juga kekanak-kanakan.

Aku masih ingat, pertama kali aku kenal Alita itu pas pertama MOS dulu. Saat itu aku terlalu pagi untuk berada disekolah. Kelas yang masih sepi bahkan ada beberapa kelas yang baru saja dibuka oleh penjaga sekolah. Para panitia MOS mulai berdatangan, tapi peserta MOS baru hanya ada aku dan Alita. Aku memilih diam dan Alita saat itu yang memulai percakapan.

“Alita,” ucap Alita memperkenalkan diri padaku sambil mengulurkan tangan.

“Annisa,” jawabku dan menyambut uluran tangannya sambil tersenyum. Setelah itu kami mulai mengobrol banyak hal. Sesekali dia mengangkatkan tangannya dan ditangan kirinya, ada cincin yang melingkar di jari manisnya. Aku fikir itu cincin pemberian dari orang tuanya tapi ternyata tebakanku salah. Benar katamu, fikiranku memang terlalu polos juga kekanak-kanakan.

Setelah beberapa bulan menginjak dikelas satu ini, beberapa guru menginginkan agar posisi duduk kita berubah. Saat itu aku diposisikan untuk satu bangku dengan Alita. Dan Alita menyambutku dengan senyumnya yang ramah. Karena satu bangku dengannya aku mulai tahu beberapa kisahnya. Salah satunya soal cincin itu. Setelah ku perhatikan lamat-lamat, dicincin itu ternyata terukir sebuah tanggal.

“Alita itu dicincin tanggal jadian?” tanyaku polos.
Dan Alita hanya tersenyum sembari setengah tertawa.

Kamu sudah tahu perihal itu?
Tapi memang benar ya, love is blind.

Dariku,

Annisa

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *