Catatan Harian

Setelah Menyerah dan Pasrah

Aku menyerah dan pasrah atas hal-hal yang telah digariskan-Nya. Sejauh apapun aku berusaha dan berikhtiar jika memang di Lauhul Mahfudz sana Allah tak menuliskannya untuk menjadi bagian dari cerita hidupku, aku bisa apa? Sekeras apapun kamu meminta pada-Nya yang tetap bukan hakmu tak akan pernah menjadi hakmu selamanya. Bukan Allah tidak menyayangimu tapi Dia Maha Tahu atas apa yang berhak bagimu.

Penghujung Desember kemarin aku kembali belajar menerima dan juga pasrah atas ketetapan-ketetapan yang memang telah digariskan untukku. Disamping itu aku lelah pada hati yang terus berharap pada orang yang memang tak pernah mau kembali lagi. Aku memutuskan untuk off sejenak dari akun instagram. Aku sudah muak dengan segala kebahagian yang diciptakan orang-orang di sana. Membuatku akhirnya selalu memandang ke atas hingga melupakan bahwa ada beberapa orang yang hidupnya jauh kurang beruntung dariku. Selain itu aku malas pada komenan teman-temanku tiap kali aku post sesuatu di akunku.

Finally, I move to twitter. Sudah lama sebenarnya akunku di sana tak terurus. Setelah log in dengan bebasnya I can write what I feel there. I really enjoy it. Sampai suatu hari sebuah akun berhasil mencuri perhatianku.

Awalnya aku kesal sekaligus penasaran atas apa yang terjadi pada si pemilik akun ini. Lambat laun tweet nya yang berisi kegaulan ini akhirnya bisa aku simpulkan sendiri bahwa dia ditinggal nikah gegara calonnya di jodohkan oleh neneknya.

Suatu hari tweet nya benar-benar membuat jariku gatal untuk tidak berkomentar di sana.

Mungkin ada beberapa hal yang menjadi pertimbangannya

Itu adalah komentar pertama yang berhasil diketik oleh jemari tanganku. Tanpa aku tahu jika komentar ini akan membawaku pada suatu hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Saling berkirim komentar hingga akhirnya aku dibuat takut oleh diriku sendiri atas bayang-bayang masa lalu yang kerap menghantui di setiap waktu. Lalu akupun memutuskan untuk mengabaikannya: tak lagi membalas komentarnya bahkan aku sempat berfikiran untuk memblock akunnya. Dasar aku!

Sampai suatu hari, direct message twitterku berderit menandakan sebuah pesan baru masuk dan itu dari sepemilik akun twitter. Dari sanalah aku baru mau percaya dan mau berteman dengannya gegara ternyata dia masih teman dari temanku juga. Lucu ya! Hahaa *untung gak aku blokir. Komunikasi tetap berlanjut hingga malam minggu yang sebelumnya hanya halu bagiku saat itu aku bisa merasakannya sendiri. Walau dengan perasaan yang berkecamuk antara harus senang dan sedih. Dan itu adalah malam minggu pertama yang aku rasakan dalam hidupku! Kalian tahu kan aku udah jomlo berapa tahun? :'(

Aku fikir setelah bertemu itu dia akan meninggalkanku. I’m not beautiful girl, fikirku begitu. Ya secara pas ketemu aku lagi kucel, gak dandan, pulang ngampus, pas lagi energi udah habis terkuras. Tapi yang aku takutkan itu sampai kini tak pernah terjadi.

Aku tak tahu apa yang tengah aku rasakan saat ini. Bagiku urusan jatuh hati it needs more time. Kamu setuju kan? Aku tahu lukamu belum sepenuhnya pulih dan aku masih diliputi rasa takut atas beberapa orang pernah yang hadir lalu pergi meninggalkanku begitu saja.

Aku hanya bisa kembali pasrah atas titah-Nya. Aku percaya sejauh apapun jarak dan waktu memisahkan jika tinta-Nya telah menggariskan tentu tak ada yang bisa memisahkan.

Terima kasih telah hadir dan selalu ada untuk mendukung.

Setelah hujan reda,

Ihat Azmi

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *