Catatan Harian

Sudahkah Bersyukur Hari Ini?

Setelah jengkel dan kesal gegara ditinggal bus pas lagi butuh-butuhnya lalu nunggu elep yang jadi pilihan ke dua hingga dua puluh menit berlalu dan tak kunjung datang maka dengan berat hati aku pun akhirnya menyetop mobil angkutan umum Ciamisan menuju kampus. Kesal bukan main! Udahlah mau bimbingan dan ini sudah dapat dipastikan datang terlambat. Tadinya milih naik bus atau elep itu biar cepet eeh yang ada malah ditinggalin dan yang ditunggu tak kunjung datang.

Qadarullah, segala sesuatu juga pasti sudah ditentukan oleh Allah. Tepat di gerbang perumahan pinggiran jalan tiba-tiba seorang pemuda mungkin usianya sekitar dua puluh delapan atau dua puluh sembilan menyetop mobil Ciamisan yang aku tumpangi ini dengan tangan membawa beberapa Jolang (tempat mandi buat anak kecil atau buat nyuci. Sama seperti ember fungsinya hanya bentuknya yang berbeda, ada yang berbentuk lonjong ada juga yang bulat). Aku menebak sepertinya pemuda ini habis berjualan berkeliling di perum mungkin karena capek berjalan dia memilih untuk naik angkutan umum saja. Tak lama dia pun berhenti di depan sebuah sekolah dasar.

“Didieu we A. Payuneun SD lumayan sugan aya ibu-ibu nu meser.” (Di sini aja A. Di depan SD, siapa tahu ada ibu-ibu yang mau beli).

Aku tertegun mendengarnya. Disaat internet dan belanja online begitu maraknya justru masih ada orang yang berjualan secara offline, berkeliling ke tiap-tiap rumah atau mengunjungi beberapa tempat yang memang bisa menjadi sasarannya untuk berjualan.

Tak henti sampai di sana, ketika mobil angkutan umum Ciamisan ini kembali melaju tepat di depan sebuah rumah makan seorang ibu-ibu menyetop mobil ini. Aku kira dia habis bekerja di sana jadi pulang gitu, ternyata si Ibu ini membawa beberapa kantong plastik besar dan juga tas jinjing berisi lauk-pauk dari rumah makan tersebut untuk dijual ke daerah kota Ciamis. Jumlahnya banyak banget. Belum lagi bebannya yang berat dan hanya si Ibu ini sendiri yang membawanya.

“Ibu bade diical ka mana?” (Ibu mau dijual ke mana?). Tanya penumpang yang lain.

“Bade diical ka daerah Ciamis kota we. Sapertos ka sakola teras ka kantor-kantor.” (Mau dijual ke daerah Ciamis kota aja. Seperti ke sekolah sama ke kantor-kantor).

“Ibu kan berat itu bawanya?”

“Iya saya nanti misal ini kan mau ke sekolah SD ya, nanti diturunin semua barangnya. Habis itu pas mau ke kantor saya tinggal naik angkot aja. Pokoknya tiap pindah tempat saya naik angkot aja.”

“Dikira saya Ibu pake gerobak, jadi dorong gerobak. Lumayan itu ibu ongkosnya.”

“Iya begitulah. Mau gimana lagi. Paling ya sekali naik bayar sepuluh ribu atau enggak kalau jauh kadang ngasih tiga puluh ribu.”

Dapat dipastikan tarifnya mahal karena lauk-pauk yang si Ibu bawa ini menyita tempat duduk yang bisa ditempati oleh tiga atau empat orang. Memang pas juga sih bayar ongkos segitu. Selama diperjalanan aku cuma menyimak obrolan mereka. Bahkan dalam hati aku terus berucap alhamdulillah aku bisa kerja gak harus seperti mereka bawa beban berat ke sana- ke sini dan itu pun belum tentu laku semua. Tetiba hal ini mengingatkanku pada Ibuku sendiri di rumah. Ibuku juga sama berjualan keliling seperti mereka. Ibuku jualan gorengan setiap pagi dengan berjalan kaki ke tiap-tiap rumah di daerahku. Kadang kalau sudah ngeluh sakit kaki suka gimana gitu perasaan, bahkan Ibuku kadang jarang dirasa, rasa sakitnya itu. Jadi beliau tetap saja berjualan meski kakinya sedang sakit. Katanya kalau enggak jualan mau dapat uang dari mana lagi.

Untuk ibu semoga sehat selalu,

Ihat Azmi

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *