Catatan Harian

Percakapan Di Becak

Aku ingat sekali. Waktu itu di pagi hari sebelum aku pergi berangkat keruang piket KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) aku sempat mengecek ruangan anak-anakku terlebih dahulu dan ternyata benar ada satu orang anak asuhku yang tidak masuk sekolah dikarenakan dia merasa tidak enak badan. Aku menempelkan punggung tanganku di keningnya alhamdulillah suhu badannya tidak panas.

Sore harinya anak asuhku ikut meminta telfon untuk menghubungi ibunya yang tinggal di Bandung. Aku pun memberikannya. Tak lama setelah anak itu menelfon sebuah pesan singkat masuk ke ponselku dari ibunya. Inti dari pesan itu adalah ibunya meminta aku untuk mengantar anaknya cek darah ditakutkan anaknya itu kembali mengidap penyakit ITP. Aku mengerutkan kening, ITP? Kembali mengidap penyakit ITP?

ITP atau Idiopathic Thrombocytopenic Purpura biasanya ditandai dengan munculnya memar dan pendaharan akibat trombosit yang ada dalam darah tidak berfungsi dengan baik.

Aku mengerutkan kening tidak mengerti. Setelah mendapatkan pesan dari ibunya itu aku langsung mengantar anak asuhku menuju dokter.

“Di cek darah saja ya,” ucap dokter setelah memeriksa kondisi anak asuhku itu.

“ITP? Oh iya itu penyakit langka. Kemarin terakhir ada anak kecil yang mengidap penyakit itu udah parah banget. Tubuhnya memar-memar dan kemarin langsung dibawa ke Bandung.” Cerita perawat saat anak asuhku hendak di ambil darah.

Hasil lab keluar dan dokter belum bisa memastikan apakah itu ITP atau bukan. Trombositnya memang turun tapi tidak turun drastis. Hanya saja dokter memberikan obat penambah trombositnya. Dan dokter meminta agar anak asuhku itu tidak banyak melakukan aktifitas yang bisa membuat jatuh atau membentur sesuatu.

Malam semakin larut. Aku dan anak asuhku pulang dengan menaiki becak.

Ukhti kaget lho kamu sakit begini. Aneh. Enggak ada panas terus kamu bilang kan enggak jatuh dan enggak membentur sesuatu tapi tubuh kamu memar-memar. Ditambah kemarin sempet mimisankan ya?”

“Iya Ukhti. Aku juga enggak nyangka bakal sakit ini lagi.”

“Emang dulu pernah?”

“Pernah Ukhti, pas lagi SD. Itu juga sembuh sendiri. ITP kan belum ada obatnya Ukhti. Paling iya itu buat penambah trombositnya.”

“Bahkan bisa sampai mengancam nyawa ya?”

“Iya Ukhti, kalau dibiarin terus mengalami pendaharan bisa sampai meninggal. Makannya dulu mamah pas mau ngelepas aku ke pesantren itu berat. Soalnya aku sakit itu pas kelas enam pas mau masuk pesantren. Cuma mamah pasrah aja sama Allah. Apapun yang terjadi semua sudah di atur oleh Allah. Setelah itu mamah siap ngelepas aku buat masuk pesantren.”

Aku pun diam mendengarnya. Sementara jalanan semakin sepi.

Ukhti ibu titip anak ibu ya. Dulu sebelum masuk pesantren anak ibu pernah sakit ITP juga. Ibu sempat panik karena kata dokternya belum ada obatnya. Dulu juga anak ibu sembuh sendiri. Ibu khawatir soalnya ibu baca diberita penyakit ini kalau tidak ditangani nantinya bisa jadi pendaharan hebat dan akhirnya menyebabkan kematian. Insya allah anak ibu sehat ya Ukhti. Ukhti kalau ada perkembangan apa-apa mohon dikabari lagi. Syukran ya Ukhti. Jazakalloh.

Hujan pun turun perlahan lalu aku mendekap erat bahunya.

“Insya allah sembuh.” Bisikku.

“Aamiin.”

Kembali terkenang,

Ihat Azmi

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *