Catatan Harian

Berbohong

“Kamu sudah mengerjakan artikel?” Tanyaku pada santriwati asuhanku. Artikel yang kumaksud adalah artikel untuk kegiatan PLDK (Pelatihan Dasar Kepemimpinan).

Dia terdiam sebentar, bola matanya berputar kemana saja mengisyaratkan sedang mengumpulkan beberapa alasan.

“Nanti aja ukhti. Aku mau cerita sama ukhti sebenarnya.” Katanya sambil menelan ludah. Entah mengapa mendengar ucapannya itu aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Jadi enggak akan ikut?” To the to point kataku dan sontak membuatnya sedikit kalap. Aku sudah tahu dari dulu, ini anak kadang pintar menyembunyikan kegugupannya.

“Iya, mau dijemput sama papah tanggal 18,” jawabnya. Aku mengerutkan kening.

“Lho papah enggak bilang lho ke ukhti kamu mau dijemput. Emang ada acara apa? Kan tidak ada perpulangan sampai tanggal 23.”

“Enggak tahu papah,” jawabnya sambil menunduk enggan menatap wajahku. Dan aku mulai was-was. Biasanya papahnya suka taat aturan pesantren. Kalau ada apa-apa pasti kasih kabar dulu.

“Ini kan kegiatannya wajib. Kamu enggak bisa seenaknya izin lho. Harus izin ke bagian ke-UGan (Kesiswaan), belum lagi ke Mudir (kepala sekolah).” Terangku dengan sedikit kesal.

“Ih ukhti please, jangan dibilangin dulu ke atasan. Kan aku mau pindah ukhti. Tapi itu juga enggak tau jadi enggak tau enggak.”

Pindah?” Aku mengerutkan kening tak percaya.

Dia hanya diam membisu. Aku sebenarnya agak ragu dengan ucapannya. Memang benar dia sudah ingin pindah dari pesantren ini, alasannya karena dia ingin tinggal bersama ibunya di kota metropolitan sana. Memang berat bagiku untuk mengurusi permasalahan anak yang broken home.

“Aku pengen tinggal sama mamah di Karawang ukhti. Gak mau tinggal sama papah. Capek.”

“Emang ibu tiri kamu?”

“Ibu tiri aku baik, gak pernah marahin aku. Cuma aku belum nyaman aja. Sementara papah orang yang selama ini deket sama aku sekarang sibuk ngurusin bisnisnya. Sekalinya pulang pas aku udah tidur.”

Dia diam sejenak dengan mata menerawang ke atas.

“Aku gak mau ukhti, cuma dimasukin ke Pesantren habis itu orang tua aku lepas tangan begitu aja. Papah dengan mudahnya masukin aku ke sini kemudian gak pernah ngasih kabar atau nanya keadaan aku di sini. Harus aku duluan yang nelfon. Giliran minta transfer aja cepet. Aku gak butuh itu ukhti. Aku iri sama temen-temen aku yang lain yang suka ditanyain keadaannya sama orang tuanya.”

Matanya mulai sedikit berkaca-kaca.

“Giliran aku cerita sama papah, papah dengerinnya sambil main hp sibuk sama urusan bisnisnya. Gak tahu dengerin gak tahu enggak. Giliran aku lagi asyik sama dunia aku sendiri terus papah malah ngajak ngobrol. Ujung-ujungnya aku dimarahin gegara ngobrol sambil main hp itu gak sopan. Lha papah dari tadi ditungguin gak dateng-dateng. Serba salah emang ukhti.”

“Liburan kemarin juga aku tinggal sama mamah di Karawang. Tinggal sama mamah enak ukhti. Mamah selalu punya waktu buat aku. Malah mamah kemaren ngingetin aku buat pulang ke rumah papah. Papah kalau di rumah enggak pernah kayak gitu. Papah selalu jelek-jelekin mamah di depan aku. Bahkan aku dilarang buat datang ke rumah mamah. Makannya pas kemarin perpulangan itu aku langsung ke Karawang dari Pesantren. Aku gak ngerti kenapa papah sebegitu bencinya sama mamah. Padahal mamah enggak pernah cerita yang aneh-aneh soal papah.”

Isi kepalaku seketika menjadi ruwet setelah mendengar ceritanya. Ini urusan keluarganya, sudah bukan lagi persoalan teman-temannya, pelajaran ataupun sekolah.

“Terus kamu kenapa bohong sama ukhti kalau kamu mau dijemput tanggal 18?”

Dia kembali diam. “Aku mau kabur ke rumah mamah ukhti sebenarnya. Soalnya kalau pulang pas perpulangan papah pasti jemput dan enggak akan ngebolehin aku pulang ke rumah mamah.”

“Kenapa kamu harus ngebohong sih? Papah kamu udah ukhti telfon tadi malam dan beliau kaget soal kamu bilang mau dijemput tanggal 18.”

Aku menghela nafas panjang.

“Jujur aja ukhti denger cerita kamu emang jelimet banget. Dan ukhti gak tahu harus percaya atau enggak sama cerita kamu. Tapi di sini kasusnya mau enggak mau kamu harus bisa berkomunikasi langsung dari hati ke hati sama papah kamu. Soalnya semalem juga papah kamu mohon-mohon sama ukhti biar kamu tetep bisa sekolah di sini dan enggak ikut mamah di Karawang. Dan yang kamu ceritain saat ini sama cerita papah kamu semalem ke ukhti itu beda banget. Berlawanan arah.”

“Papah keras kepala ukhti. Papah emang gak mau aku tinggal sama mamah.”

“Kamu omongin baik-baik ya sama papah biar dapet solusinya. Kan gak enak juga kalau gini.”

“Iya ukhti,” jawabnya. “Ukhti, boleh enggak meluk?”

Aku tersenyum lalu memeluknya duluan. Tak lama tangisnya pecah dipelukanku.

Untuk kita yang egois,

Ihat Azmi

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *