Catatan Harian

Pesan Mamah

Ada hal yang menarik di saat aku menginjak usia dua puluh tiga tahun. Dengan pengalaman Mamah yang menikah pada saat usia dua puluh empat tahun. Kemarin saat aku menyempatkan diri pulang ke rumah entah dari mana Mamah membicarakan persoalan pernikahan. Dimulai dari anak tetangga yang cerai karena kasus KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), kemudian anak tetangga yang tidak bisa mengurus anaknya; membiarkan anaknya makan apa saja asal makan (kamu bayangin anak umur satu tahun setiap harinya selalu dibelikan minuman kemasan), atau anak tetangga yang seumuran denganku yang harus tetap bekerja dengan menitipkan anaknya ke orangtuanya. Semua itu Mamah jadikan cerminan untuk aku telaah dan diambil hikmahnya termasuk cerita dua puluh empat tahun yang lalu; saat Mamah dan Bapak bertemu.

Mamah dan Bapak bertemu tidak sengaja. Semua berawal dari Bapak yang jajan ke warung Mamah dan saat itu Mamah yang melayaninya. Mungkin bisa dibilang love at first sight.  Semua berlangsung sangat singkat hanya dua minggu berkenalan kemudian keduanya memutuskan untuk menikah. Mamah bilang, perjalan mereka menuju pernikahan itu tidaklah mudah. Banyak sekali tantangannya. Dengan Mamah yang minim ilmu kemudian Bapak yang harus tetap bekerja padahal itu adalah menuju jam-jam acara pernikahan dimulai. Dan yang paling fatal adalah Mamah baru tahu kedua orang tua Bapak pada saat akad akan segera dimulai. Mungkin nanti akan aku bahas ya tentang pernikahan kedua orang tuaku.

Hingga akhirnya obrolan singkat ini berakhir dengan pesan Mamah yang mengatakan bahwa sebelum menikah adakalanya kita harus mengenal pasangan kita satu sama lain. Jangan kayak Mamah. Semua serba dadakan. Beruntung kalau kita mendapatkan pasangan yang bisa diajak komunikasi atau bisa menerima segala kekurangan dan kelebihannya setelah menikah. Justru kebanyakannya kan mereka gagal dalam berumah tangga. Karena perkenalan singkat itulah bahkan kata Mamah, Mamah belum tahu karakter Bapak seperti apa, apa keinginnannya dan yang lainnya.

Kalau Mamah sama Bapak egois bisa-bisa rumah tangga hancur. Ungkap Mamah.

Meski pada akhirnya semua itu kembali pada keputusan masing-masing. Cuma ya pesan Mamah gitu, kita harus tahu dulu visi-misi pasangan kita apa, karakternya seperti apa. Biar nanti pas udah nikah kita enggak terlalu shock dengan sikap dan karakternya dia.  Soalnya misal kadang yang pacaran bertahun-tahun juga sikapnya akan ketahuan yang sesungguhnya pas nikah. Cuma ya setidaknya ada beberapa hal yang bisa jadi bayangan kita karakter dia seperti apa. Mamah dulu pendiam, Mamah dulu nurut-nurut aja sama ajakannya Bapak. Alhamdulillahnya Bapak juga bukan seorang penipu. Jadi semua berjalan lancar meski ada beberapa pihak yang tidak suka dengan pernikahan mereka.

Semoga jadi pembelajaran untuk kita semua.

Ihat Azmi

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *