Catatan Harian

Bagaimanakah Seharusnya?

family-2655509_1920

www.pixabay.com

Ini unek-unek aku dan juga opini aku tentang pemilihan jurusan IPA atau IPS ketika akan masuk SMA. Jujur aja sih sebagai alumni kelas IPS aku merasa gak enak juga ketika orang-orang bahkan orangtua kebanyakan lebih mengunggulkan kelas IPA dibanding IPS. Sehingga karena emang udah di cap kayak IPS itu anaknya yang biasa aja, gak pinter-pinter kayak di IPA, itu membuat secara tidak langsung atmospher kelas IPS tuh begitu.

Beberapa contoh misal:

  1. Ada orangtua yang memang minta si anak buat masuk kelas IPA. Titik gak ada lagi tawar menawar. Kalau misal di sekolah tersebut anaknya gak masuk IPA, anaknya bakalan di daftarin lagi ke sekolah lain agar anaknya masuk IPA. Karena orangtuanya pengennya si anak nanti ngambil kuliah kedokteran dan memang keluarganya juga kebanyakan berprofesi sebagai dokter. Namun hal menariknya adalah anaknya itu mm.. biasa aja gitu ya maksudnya temen-temennya atau kita di sini selaku pengurus tahu kelebihan dan kekurangan dia. Menurut kita ya dia cocoknya di kelas IPS.
  2. Ada orangtua yang juga sama keukeuh anaknya masuk IPA kasusnya ini juga sama MAKSA biar anaknya masuk IPA padahal hasil test psikologi dinyatakan bahwa anaknya ini cocoknya masuk di kelas IPS. Yang lucunya si anak ini dia belum punya pegangan yang kuat buat ke depannya soal cita-cita dia dan orangtuanya sering bilang ke dia bahwa nanti udah besar dia harus jadi dokter gigi. Alhasil apa? Dikelas dia keteteran dan dia takluk sama pelajaran Kimia. Nah lho!
  3. Ini kasus temen aku sendiri. Dia bahkan dulu sampai ngajak aku buat masuk IPA karena aku sendiri malah milih IPS. Dia sampai bilang kalau kelas IPS itu kelas pembuangan. Tapi ujung-ujungnya apa? Pas dia daftar SNMPTN dia di suruh orangtuanya buat daftar ke jurusan Akuntansi UI! Gila lintas minat kan? Alhasil SNMPTN nya gagal kemudian dia harus daftar SBMPTN lagi belajar soal IPS di mulai Sosiologi, Ekonomi, Geografi, Sejarah selama dua bulan non stop. Alhamdulillah dia keterima akhirnya di Akuntasi di salah satu PTN yang lain bukan di UI. Agak kecewa juga dia. Kayaknya dia sempet nyesel deh gegara gak masuk IPS.

Dari pengalaman tersebut aku cuma pengen nyampein unek-unek aku buat para orang tua di rumah please stop buat maksain keinginan kalian ke anak-anak kalian sendiri. Meskipun kalian misal berprofesi jadi Dokter kalau kemampuan anak kalian sendiri tidak bisa memenuhi atau anak kalian enggak interest sama bidang tersebut kenapa harus dipaksakan? Kemudian kenapa juga sampai harus menjudge bahwa seolah-olah IPA itu pilihan terbaik dari pada IPS. Nyatanya pas akhir kelas tiga nanti? Ujung-ujungnya banyak yang ambil jurusan IPS. Tarohlah Bahasa, Hukum, Akuntasi, dll. Iya aku juga tahu kok dan faham orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Namun di sisi lain aku ingin menyampaikan bahwa sebagai orang tua seharunya bisa mengarahkan apa potensi yang dimiliki oleh anak. Anak maunya A kenapa tidak kita dukung.  Atau misal keinginannya B. Jujur aja sih kalau aku pribadi misal yang jadi mereka aku bakal berontak. Maksudnya ngapain gitu harus nurutin keinginan mereka yang memang kita fashionnya jelas-jelas bukan di sana. Kenapa? Malu diomongin tetangga gegara anaknya malah jadi seorang reseller baju sementara bapaknya seorang Dokter terkenal? Kan semua juga berawal dari nol, siapa tahu si anak ke depannya jadi pengusaha baju besar. Bukankah semua berawal dari hal yang kecil ya? Dan inget hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk mendengarkan ocehan-ocehan yang gak penting.

Tulisan ini juga dibuat sebagai reminder my self kedepannya nanti. Biar gak jadi orang tua yang memaksakan kehendaknya kepada anaknya agar dapat pujian dari orang sekitar. Misal. Hidup kalau cuma tujuannya biar di puji orang itu malah bikin capek. Lha namanya orang, mau gimana pun kita baik-buruknya pasti diomongin. Bener gak?

Ok. Jadi kesimpulannya sebagai orang tua dan anak harus ada ruang dan waktu khusus untuk membicarakan soal jurusan dan rencana ke depan masing-masing. Sampaikan beberapa alasan mengapa memilih plan tersebut misal. Kan kalau udah diomongin enak  terus jelas lagi. Iya gak? Jadi enggak ada salah satu pihak yang merasa terbebani gitu.

Menjelang menutup mata,

Ihat Azmi

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

1 Comment

  1. Avatar

    Setuju, tetap semangat karena masa depan kita, kita sendirilah yang menentukan, bukan orang lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *