Catatan Harian

Jembatan Depan Rumahku

Akan selalu ku ingat di dalam benakku. Bagaimana kisah sore di zaman kita kecil dahulu. Empat belas tahun berlalu namun semuanya masih tergambar jelas diingatanku.

Sore yang cerah saat itu. Aku yang tengah duduk di jembatan depan rumahku sendirian sambil menarik nafas perlahan. Menikmati waktu sore yang sering aku tunggu kehadirannya. Angin perlahan meniup, menyapu rambutku sedikit berantakan. Tak lama kamu datang menghampiriku dengan kaos lengan pendek, celana pendek selutut, dan juga tak lupa kamu sampirkan sarung di bahumu.

“Ngelamun aja!” Katamu lalu ikut duduk di sampingku.

“Siapa juga yang ngelamun, bloo…” jawabku sambil menjulurkan lidah kepadanya.

“Hayoh!” Dia malah hendak menjatuhkanku ke sungai dengan memegang kedua lenganku.

“Kak ih!” Jeritku kaget. “Jatuh nanti!”

“Biarin,” ucapnya santai lalu mengulang kembali perbuatannya itu membuatku menjerit lagi.

“Kak lepasin gak ini tangan Kakak,” kataku dengan sedikit was-was.

“Oh iya-iya Kakak lepasin,” dia melepaskan cengkaramannya dari lenganku sambil senyum nyengir memamerkan deretan giginya yang rapih.

Lalu kami tenggelam dalam lamunan masing-masing.

“Indah…” Panggilnya membuatku menoleh ke arahnya.

“Iya kak?”

“Rambut kamu berantakan,” dia menjulurkan tangannya lalu menyelipkan rambutku ke daun telingaku sebelah kiri membuatku diam membisu.

“Ayo udah mau maghrib, kita ngaji!” Ajaknya sambil menarik tanganku agar aku berdiri.

Sore itu aku hanya mampu menatap wajahnya saja. Matahari kian tenggelam menyisakan semburat warna orange yang indah sementara itu langit mulai bergerak menuju gelapnya malam.

Jembatan depan rumah,

Ihat Azmi

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *