Catatan Harian

Share atau Mending Gak Usah Aja deh?

Hai! Sebenarnya bingung barusan itu pengen nulis tapi nulis apa ya? Lanjut nulis skripsi juga belum ada fed back dari dosen pembimbingnya. Pas lirik ke sebelah ada kardus, oh iya lupa!

Jadi tadi pagi mumpung lagi libur dan pulang ke rumah, aku sengaja ngobrak-ngabrik laci lemari aku yang udah lama banget gak dibuka-buka dan emang orang rumah juga gak ada yang berani buka. Soalnya itu laci aku kunci dan aku pernah ngancem orang rumah kalau ada yang sampai buka itu terus ada yang hilang berarti harus tanggung jawab. Isinya berkas-berkas penting termasuk Ijazah aku simpan di sana juga. Akhirnya gak ada yang berani buka tuh padahal yang terpenting dari isi di laci itu adalah buku harian aku. Alhamdulillah nya enggak pernah ada yang buka bahkan sampe baca. Dulu pas zaman aku sekolah aku selalu umpetin itu kunci bahkan kadang sampe di bawa ke sekolah karena takut di obrak-abrik sama ortu terus dibaca deh kan gawat. Pasti kalian bertanya-tanya kenapa aku sampe sebegitu menjaga isi laci ini? Ya karena dulu aku pernah kirim surat buat cowok kemudian si suratnya itu aku simpan di antara tumpukan baju. Nah pas aku lagi liburan ke rumah nenek, Mamah sama Bapak aku niat awalnya mau beresin lemari baju aku, eh malah kedapetan surat aku itu yang buat cowok. Akhirnya Bapak aku dari sana enggak pernah berhenti buat ledekin aku sampai aku malu banget. Makannya sampai sekarang urusan cowok aku gak pernah dan bahkan belum pernah cerita sama sekali ke mereka. Aku gak mau nantinya jadi bahan ledekan lagi. 🙁 Alhasil mereka sepertinya enggak pernah tahu kapan aku fall in love, broken heart, kecewa, ataupun yang lainnya karena pas di rumah aku selalu nutup semua hal ini dan aku selalu memasang muka bahwa everything it’s gonna be ok. Bahkan aku masih ingat, saat zamannya Aliyah dulu ketika aku terguncang patah hati dan aku slek sama temen aku, aku bisa bersikap seolah biasa aja bahkan untuk nangis pun aku bisa pendam sendiri. Hebat enggak sih?

Ok, aku mau jawab beberapa pertanyaan teman-teman semuanya.

Dari sejak kapan aku mulai menulis buku harian?

Menulis di buku harian adalah salah satu hobi aku yang aku minati sejak aku duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga. Ini awal banget ya aku nulis di buku harian. Entah terinspirasi dari mana pokoknya waktu itu di kelas aku lagi musim buku diary dan teman-teman aku menggunakannya sebagai media untuk menulis biodata lalu sisanya ada yang menulis soal pacarnya di sana. Dengan kerennya waktu itu si diarynya bisa di kunci otomatis si pemilik itu pamer dong  ke semua orang meski bukunya disimpan di mana aja tetap gak ada yang bisa baca karena kuncinya di bawa sama si pemiliknya. Kemudian beberapa hari dari sana itu saudara aku ada yang ngasih uang ke aku. Pergilah aku bersama teman aku ke pasar untuk membeli buku diary yang bisa dikunci. Awalnya aku rajin banget nulis tentang seseorang yang aku suka. Besoknya karena benci (haa dasar anak-anak hari ini suka besok bisa langsung benci) aku robek tulisan aku tentang dia terus robekannya itu aku buang ke sungai depan rumah. 😀 Dari sanalah aku malas menulis lagi di buku diary.

Menginjak kelas empat SD  dengan bermodalkan menyisihkan uang jajan, aku beli buku diary lagi sendiri tanpa ditemani oleh siapapun ke sebuah toko buku yang bertempat di depan alun-alun kota kelahiranku sambil jalan kaki. Karena waktu itu uang aku cuma cukup buat beli bukunya. Harganya kalau tidak salah lima ribu rupiah. Nah dari sanalah aku berjanji buat nulis tiap malam tentang kejadian apa saja yang aku lalui selama seharian itu. Esoknya dengan perasaan yang berbeda aku menahan tangan aku untuk tidak merobek tulisan aku yang kemarin. Alhasil selama sebulan aku bisa mempertahankan itu dan menulis menjadi candu bagiku di malam-malam berikutnya. Bahkan sampai saat ini, meski menulisnya tak serajin dulu tiap malam, setiap hari.

Alasan menulis di buku harian?

Sebagaimana yang udah aku bahas sebelumnya, di awal-awal kayaknya cuma sebatas iseng dan liat temen-temen aja tapi makin ke sini setelah merasa bahwa menulis akhirnya menjadi canduk bagi diri aku sendiri, aku bisa menemukan the reasons why I write in diary. 

Menulis di diary sebelum tidur itu bikin aku bisa tidur tenang. Kenapa? Karena semua ide atau unek-unek selama seharian udah aku tulis di buku. Jadi fikiran tuh udah kosong aja gitu, enak.

Kemudian, karena dulu orang tua aku sibuk kemudian belum bisa terbuka seperti sekarang jadi aku tuh kayak yang gak punya temen buat cerita. Akhirnya segala kekesalan aku, emosi, bahkan perasaan, sampai isi hati aku tuang semuanya dengan menulis di buku. Bahkan gak jarang kalau lagi sedih misal atau lagi kesel sama seseorang aku bisa menulis sambil nangis dan juga nulisnya agak ditekan gitu saking nahan emosi dan rasa kesal.

Apalagi ya, pokoknya menulis itu bikin aku nyaman, bisa bikin aku jadi diri sendiri, bisa curhat bebas tanpa ada yang menghakimi.

Udah habis berapa buku buat nulis catatan harian?

Berapa ya? Banyak deh kayaknya. Ini yang di kardus itu baru yang dari zaman SD sampai Aliyah kelas tiga. Sisanya masih ada di boarding. Hehee 😀

Kalau misal isi catatan harian kamu di share di blog pribadimu ini gimana?

Actually, ini ide lama aku juga. Cuma belum bisa konsisten aja ngejalaninnya. Dulu pernah nge share buku harian aku di blog aku sebelumnya tapi aku hapus lagi. Ngerasa belum siap aja sih, takut di olok-olok aja kalau misal ada orang yang nemu tulisan aku gitu. Hii. Tapi semoga dalam waktu dekat bisa direalisasikan ya. Soalnya sayang juga kalau cuma di pajang di buku. Apalagi buku kan cepet juga rusaknya. Belum lagi gak ada yang baca, kalau di share di sini kan temen-temen semua pasti baca ya dan bisa ambil hikmahnya kan?

IMG_20200324_213521

doc. pribadi

Jadi ini nih buku-buku yang menceritakan kesehariannya aku. Soon ya. I wanna share all of this with you. Semoga teman-teman nanti bisa berkenan untuk membacanya and the important thing sih bisa ambil hikmahnya dari catatan yang nantinya bakal aku share. Oh iya dan bahasanya juga sepertinya sesuai dengan apa yang udah aku tulis di sana aja kali ya? Jadi nanti teman-teman bisa lihat perbedaan gaya bahasa menulis aku dari tahun ke tahun. Ok? Paling ada beberapa nama yang disamarkan. Hihii…

Thanks a lot!

With love,

Ihat Azmi

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *