Catatan Harian

Berantakan

Terkadang aku bingung harus memulai dari mana. Semuanya masih sama dan tak pernah berubah.

Untuk diri aku yang terlahir sebagai anak pertama.

Untuk diri aku yang hanya seorang gadis sederhana.

Untuk diri aku yang mudah percaya pada ucapan orang.

Untuk diri aku yang aku sendiri juga belum bisa memahaminya sendiri.

Kamu tahu? Aku sulit untuk bisa percaya atas diriku sendiri. Kamu pasti akan mengatakan, bagaimana orang lain akan percaya pada diriku sendiri jika aku saja tak percaya pada diriku sendiri. Itu basi dan aku muak untuk mendengarnya. Biar aku jawab, bagaimana aku bisa percaya pada diriku sendiri jika lingkungan sekitarku saja terkadang memanggilku dengan sebutan yang seharusnya tak perlu disebut.

Aku yang gendut.

Aku yang jelek.

Aku yang jerawatan.

Aku yang berminyak.

Aku yang bego.

Aku yang baperan.

Iya terus aja bilang semaunya kalian. Aku emang gendut, aku emang jelek, jerawatan, bego, terus baperan. Iya itu aku. Terus apa? Oh satu lagi aku yang terus dapet penolakan. Puas?!

Bagi aku hidup adalah kerja keras; kerja keras untuk menghindari segala penolakan. Tapi sayangnya “penolakan” sendiri bagi aku itu udah jadi temen bahkan sahabat dari sejak kecil. Dimulai dari pendaftaran SD, ke sekolah SD favorit saat itu. Hanya bermodalkan otak tanpa materi nyatanya kalah dibandingkan dengan bermodalkan materi dibanding otak. Alhasil? Aku ditolak gegara orangtua aku yang bekerja biasa saja. Kemudian saat pertandingan lomba-lomba tak jarang aku mendapatkan hasil dengan tangan kosong. Bahkan gegara aku demam panggung hingga akhirnya aku tak bisa melanjutkan perlombaanku, guruku sempat menyindir membuatku down saat itu juga. Tapi biarlah. Saat itu, semua kekalahan hanya bisa aku dekap sendiri meski sedih dan juga pedih. Dan satu hal lagi aku tergolong murid yang biasa saja di kelasku. Dan tak jarang terkadang tanpa orang tua aku sadari, mereka sering membandingkan aku dengan kedua adikku yang memang lebih unggul dari diri aku. Ya Allah bagaimana aku bisa menerima diriku sendiri?

Gak cuma gagal dibagian akademik. Rupanya kisah asmaraku juga tak terlalu menarik bahkan sering menjadi bahan bulian teman-teman sekitarku. Sebelum kisah itu dimulai semua sudah patah diawal. Menyedihkan bukan? Habis itu teman-teman ku akan bilang  kalau aku itu ketinggian lah, aku itu mudah jatuh cinta, aku itu baperanlah. Mereka gak tahu bagaimana beberapa episode itu datang kepadaku tanpa rencana juga tanpa ku duga. Apalagi kebanyakan perempuan memang mudah terbawa perasaannya. Bukankah begitu? Bahkan tak jarang mereka bilang aku salah menafsirkan. Hahaa. Memang benar aku bodoh dan juga bego. Masih saja jatuh ke lubang yang sama.

Bahkan kesalahfahaman pun kembali terjadi saat aku memang sudah berhati-hati. Di usiaku yang memang sudah menginjak dewasa. Saat aku fikir mungkin ini adalah jawaban dan juga hadiah atas kehilangan-kehilangan yang selama ini terjadi padaku and do you know what? I still wrong. Aku masih aja jatuh ke lubang yang sama. Parahnya aku diminta untuk tidak percaya atas hal-hal yang mereka ucapkan dan mereka harus beware for myself lantaran aku yang baperan.

Aku cuma bisa diam, gak ngasih komentar, dan rasanya…

Hati aku sakit.

Sakit mendengarnya.

Jika sebelumnya aku disebut bahkan disuruh ngaca lantaran tubuh aku yang gemuk. lalu setelah itu aku disebut bego, kemudian? You must beware that I baperan! Keren gak sih?!

Ternyata makin kesini aku makin parah ya? Bener enggak? Habis itu kalian mau ngatain apalagi buat aku?

Untuk aku yang berantakan,

Ihat Azmi

 

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

4 Comments

  1. Avatar

    Tidak ada yg perlu kutambahkan terkait kamu. Jadilah kuat, meski tidak di kehidupan nyatamu setidaknya kamu kuat di dalam tulisan-tulisanmu. Terima kasih sudah menulis. Tetap jaga semangat menulismu

  2. Avatar

    Terima kasih sudah menguatkan 🙂

  3. Avatar

    EKSTERNAL. Setahu saya sih, pada umumnya mereka yang suka merendahkan orang lain (termasuk ngata-ngatain) itu sebenarnya sedang cari kompensasi untuk menutupi kekecewaan mereka kepada diri sendiri (agar mereka bisa merasa lebih baik).

    INTERNAL. Mawas dan koreksi diri jelas perlu. Tapi mungkin kita juga perlu selalu ingat akan keberuntungan. (Misalnya kalau saya nggak ganteng, lah, yang nggak gantengnya lebih parah mah buanyak hehe..)

    Apapun, yang pasti saya setuju dengan komenter pertama di atas: Azmi bisa nulis. (Dan seperti melukis/nyanyi/ngarang lagu dll, tidak semua orang bisa melakukan itu. Ya, kan?) 🙂

  4. Avatar

    Enggak sempat berfikir ke arah sana dan lebih sering menyalahkan diri sendiri sebelumnya. Terima kasih sudah mengingatkan kak hihii 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *