What’s Your Dream? My Dream is…

My dream is… 

My ambition is…

In the future I want to be a…

I wanna be a…

Actually since I was little setiap ditanya soal cita-cita aku pasti jawab: GURU! Ada lagi yang nanya mau jadi apa? Guru! Atau tiap nulis biodata di binder orang di bagian cita-citanya aku nulis GURU.

Semua berawal dari guru wali kelas aku. Saat itu aku duduk di kelas dua sd. Beliau adalah Bu Darningsih. Hallo Ibu. Apa kabar? Semoga ibu sehat selalu dan berada dalam lindungan Allah SWT ya. Aamiin. Entah mengapa karena cara mengajarnya yang jelas, jarang marah, baik banget, terus sering cerita gitu bikin anak-anak nempel terus sama si Ibu dan dari situlah aku tertarik buat jadi guru. Enak ya jadi guru, didengerin murid-muridnya, disayangin murid-muridnya, diinget murid-muridnya. Sampai-sampai kalau di rumah lagi main sama temen-temen aku suka banget main guru-guruan gitu. Aku yang jadi gurunya, temen-temen aku yang jadi muridnya. Bahkan aku sampai nekat ngambil raport TK aku yang disimpan rapih sama mamah terus sama aku lembaran yang masih kosongnya aku isi dan dikasih tanda tangan dikolom wali kelasnya dengan nama aku sendiri. Hahaa saking pengen jadi seorang guru. Habis itu buru-buru disimpan lagi karena takut ketahuan mamah. Selain itu, aku juga sering ditunjuk untuk membantu guru mengajiku mengajari murid-muridnya mengaji Iqra. Bahkan ketika aku kelas 4 sd untuk pertama kalinya aku ditunjuk oleh wali kelasku untuk menulis materi pelajaran di papan tulis dan aku sangat bangga saat itu! Hingga beranjak remaja cita-cita itu tak pernah pupus dan hanyut begitu saja. Justru aku semakin bertekad dan semangat untuk menjadi seorang guru bahkan aku memiliki impian untuk bisa mendirikan sekolah sendiri yang dikhususkan untuk orang-orang yang tak mampu secara ekonomi namun memiliki semangat yang tinggi untuk bisa sekolah.

school-79612_1920

www.pixabay.com

Hingga hari itu tiba. Saat aku duduk dibangku kelas 11 Aliyah/SMA. Sahabatku mengajak aku untuk ikut mengajar di sebuah masjid yang berada di dalam kompleks perumahan di kota kelahiranku. Saat itu aku hanya menyetujuinya setelah mendapat izin dari kedua orang tuaku dan aku tidak memikirkan soal gaji atau bayarannya. Yang aku fikirkan saat itu adalah aku hanya ingin menjadi seorang guru, mencari penglaman dan aku tak peduli jika tidak mendapatkan gaji sekalipun. Aku mengajar anak-anak mengaji Al–Qur’an dan Iqra termasuk memberikan materi soal agama Islam setiap hari Senin-Jum’at pukul lima sore sampai sholat maghrib berjama’ah di sana. Hari pertama mengajar rasanya dag dig dug tak menentu. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan tak terasa saat itu sudah satu bulan aku mengajar hingga akhirnya aku dan temanku dipanggil oleh pengurusnya dan kami masing-masing diberi amplop. Aku dan sahabatku berfikir mungkin gajinya sedikit sekitar dua puluh ribu atau dua puluh lima ribu. Namun pas dibuka, masya allah. Aku dan sahabatku saling tatap; kaget. Uang berisi seratus ribu rupiah dan lima puluh ribu rupiah. Aku dan sahabatku sujud syukur saat itu. Tak menyangka uangnya besar sekali. Gaji pertama itu aku belikan kalkulator scientific merk Casio. Wah! Sebelumnya kedua orang tuaku tak mampu membelikan aku kalkulator itu. Aku senang bukan main saat akhirnya aku bisa membeli benda yang selama ini aku inginkan dari hasil jerih payahku sendiri.

After graduated from Senior High School dikarenakan beberapa hal akhirnya aku gap year dan memilih bekerja di sebuah Pesantren menjadi seorang wali santri atau wali asuh. Dan bagi aku ini sangat berat sekali karena tugasnya lebih dari seorang guru. (Maybe next post I will tell you about it!). Tahun berikutnya alhamdulillah aku mendapatkan kesempatan untuk bisa mengenyam di bangku kuliah dengan mengambil Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) karena memang pada dasarnya aku ingin menjadi seorang guru.

Di bangku kuliah inilah wawasanku semakin bertambah bahkan karena aku mengambil kelas karyawan aku jadi tahu juga bagaimana kenyataan seorang guru di lapangan. Beberapa temanku yang statusnya guru honorer harus rela dengan gajinya yang minim bahkan ada yang sempat bayaran gajinya ditunggak. Belum lagi dibeberapa berita seorang guru dilaporkan ke polisi karena memukul muridnya yang terlambat. Meski begitu entah mengapa rasanya tetap saja, aku ingin menjadi seorang guru. Aku selalu berdoa semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan lagi  terkait kesejahteraan guru-guru di Indonesia khususnya guru honorer. Bukankah ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ adalah cita-cita bangsa Indonesia itu sendiri?

Salam,

Ihat

Author

De Ihat
deihatblog@gmail.com
Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

Comments

Avatar
June 20, 2020 at 1:05 pm

Semoga menjadi guru yang amanah ya kak.



Avatar
June 22, 2020 at 10:01 am

Wah sama! Saya juga punya cita-cita jadi guru dan sekarang lagi kuliah di Pendidikan Kimia. Semoga bisa sama-sama menjadi guru yang dapat digugu dan ditiru ya. Salam kenal~



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sidang Kompre!

June 15, 2020

Ngeluh Aja!

June 19, 2020