Catatan Harian

Ketika Urusan Ibadah Dijadikan Lelucon

Terkadang saya sendiri tidak faham mengapa orang-orang begitu suka menggunjing kesalahan orang lain dan yang paling parah justru malah menjadikannya bahan lelucon saat sedang berkumpul bersama. Padahal kalau dilihat-lihat kesalahan diri sendirinya juga banyak. Peribahasa gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di lautan tampak memang benar adanya. 

Saya sendiri bahkan mengalaminya sendiri. Contohnya perilah shaum qodo saya yang lebih banyak dibandingkan teman-teman saya. Suatu hari saat kami sedang berkumpul tiba-tiba hal itu menjadi bahan ledekan di antara teman-teman saya dikarenakan shaum qodo saya lebih banyak dan kebiasaan saya yang menggantinya sering di akhir-akhir bulan mendekati bulan Ramadhan. Saat itu saya hanya diam. Jujur saya malu diperlakukan seperti itu oleh teman-teman saya. Mengapa urusan ibadah seseorang harus dijadikan bahan lelucon? Toh yang menjalaninya juga saya bukan teman-teman saya.

Saya sempat berfikir untuk membalas ucapan teman saya itu dengan mengatakan bahwa untuk ibadahnya dia sendiri pun masih kurang, bahkan tak jarang masih ada yang selalu beliau tinggalkan. Tapi hal itu saya urungkan lagi, saya tak ingin mencari keributan ditengah perkumpulan dengan teman-teman saya itu.

Bahkan yang saya tak mengerti, sebelumnya mereka sempat menggunjing di belakang saya soal hutang shaum saya yang banyak dan kapan saya menggantinya. Lha itu kan urusan saya pribadi? Kenapa teman-teman semua mesti heboh perihal ibadah saya?

Kalaupun mau menasehati sebaiknya ya ngobrol berdua, hindari keramaian. Karena memberi nasehat di depan umum apalagi ujung-ujungna dijadikan bahan lelucon hanya membuat seseorang itu merasa terhina, merasa direndahkan. Jujur saja, saya sakit hati sekali ketika akhirnya hal itu dijadikan bahan lelucon dan membuat teman-teman saya yang lain tertawa mendengarnya setelahnya. Saya yang saat itu hendak menyuapkan satu sendok penuh berisi nasi ke dalam mulut pada akhirnya tidak jadi. Saya lebih memilih memainkan sendok di atas piring dengan perasaan dongkol, diam kemudian tidak menggubris setiap perkataan yang mereka lontarkan kepada saya. 

Dari saya yang kecewa.

Sumber gambar:

https://pixabay.com/id/vectors/kesal-terganggu-komik-2026755/

4 thoughts on “Ketika Urusan Ibadah Dijadikan Lelucon”

  1. Wah sampe segitunya ya mbak. Belajar utk menahan emang paling menantang, apalagi menahan emosi yaaa.

    Aku bayanginnya, pas itu mbak ihat dibilangin : ih utang puasanya banyak bgt.

    Pdhl dr konsep omongan itu bnyk korelasinya. Kita meninggalkan fokus ibadah mahdhoh lumayan bnyk karna haid, kita pun sedih pasti. Kita pun bakal sedih ngebayanginnya bakal ada utang bnyk nantinya.

    Ada relasi-relasi yg sering abai ya dr yg dikira cuma celetukan becandaan atau merespon semata.

    This remind me for being more carefull of giving comment. Thanks for sharing Mbak Ihat

    1. Iya mbak kita sama-sama belajar. Meski orang bilang itu sepele tapi kita enggak pernah tahu apa yang dirasakan orang itu atas ucapannya kita 🙂 Don’t mention it mbak 🙂

  2. Daripada dijadikan lelucon harusnya emang dijadikan nasehat aja ya mbk. Dan ngobrolnya harus berdua.
    Padahal ibadah seseorang itu Allah yang menilai, karena itu hubungan kita dengan tuhan kita. Menjadikannya sebagai bahan bercandaan, kayaknya terlalu nggak sopan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *