Catatan Harian

Tuntutan Orang Tua Terhadap Anaknya

Meski saya belum menikah dan masih menyandang status single di karenakan  pekerjaan saya sebagai seorang pengasuh santri di sebuah Pondok Pesantren membuat saya akhirnya sedikit faham mengenai hal ini. Tak jarang beberapa orang tua mengeluh lantaran ekspektasinya terhadap anaknya sendiri gagal atau hanya sebatas ilusi yang sangat sulit diwujudkan. Beberapa cara dilakukan oleh para orang tua agar anaknya bisa memenuhi ekspektasi mereka sendiri dari mulai memberikan reward hingga punishment. Dari sudut pandang diri saya sendiri sebenarnya sah-sah saja sih baik memberikan reward ataupun punishment. Hanya saja keduanya ini memberikan efek yang sama kepada anak; anak menjadi kurang kesadaran terhadap dirinya sendiri dikarenakan jika diberi reward jatuhnya dia tidak ikhlas dalam melakukan sesuatu hal dan goalnya hanya tertuju pada reward itu sendiri. Sementara jika yang diberikan adalah punishment si anak justru merasa tertekan dan hidupnya merasa terkekang.

Menjelang beberapa menit menuju azan ashar panggilan WhatsApp saya berdering, ternyata santri saya yang menelefon dan dia belum masuk ke asrama di saat teman-temannya yang lain sudah masuk asrama dan tengah mengikuti kegiatan. Sebelumnya saya mendapat kabar dari ibunya bahwa si anak terlambat masuk Pesantren lantaran sedang sakit. Namun sayangnya sebelum kabar si ibu itu sampai saya lebih dahulu mendapatkan pesan dari pimpinan pondok bahwa alasan yang dibuat oleh orang tuanya itu terkesan seperti dadakan bahkan saat menelfon bapaknya, bapaknya sendiri tidak tahu mengenai kapan anaknya akan pergi ke pesantren. Ya sudahlah, take it easy aja batin saya. Jika benar sakit maka saya mendoakan semoga lekas sembuh kalaupun misal orang tuanya berbohong ya itu sih urusan mereka dengan Allah.

Kembali lagi ke soal telfon anak itu. Saat saya mengangkatnya bukan salam yang terdengar melainkan suara isak tangis. Saya langsung panik lah. Yang saya tahu hari itu adalah hari di mana dia akan berangkat ke pesantren. Saya bertanya-tanya apakah telah terjadi sesuatu padanya. Bahkan saya sempat berfikir bahwa dia mengalami kecelakaan di jalan. Namun ternyata bukan itu. Disela-sela isak tangisnya yang pecah dan terdengar seperti menyakitkan itu dia bercerita bahwa bapaknya marah besar saat dia pulang sehabis membeli keperluan untuk dibawa ke pesantren. Jauh sebelum kemarahan itu Bapaknya bahkan sering membanding-bandingkan dirinya dengan anak temannya yang lebih unggul dari dirinya sendiri. Selain itu bapaknya juga mengancam kepadanya kalau mau kembali ke pesantren dia  harus jadi ranking 1 dan harus bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya sebanyak lima belas juz. Jika targetannya itu tidak tercapai olehnya maka dia harus membiayai pendidikannya sendiri selama di pesantren. Selain itu hal yang paling menyakitkan dari ceritanya adalah saat Bapaknya berkata bahwa dia hanya bisa memoroti uang bapaknya tanpa ada hasilnya. Saya hanya bisa beristighfar mendengar ceritanya itu. Hingga akhirnya telfon pun ditutup lantaran Bapaknya datang.

Kini saya faham mengapa dia di pesantrennya terkenal dengan sebutan ‘lelet’ dan santai. Dulu sebelum-sebelumnya saat saya sudah kehabisan cara agar bisa membuatnya lebih disiplin lagi. Saya sempat bertanya kepada teman-temannya yang saya kira cukup dengan dengannya mengenai kehidupannya di rumah bagaimana. Dan pengakuan teman-temannya itu cukup membuat saya terkejut. Sifat dia antara di pesantren dan di rumah jauh terbalik. Di rumah dia rajin berbeda dengan di pesantren yang bisa saya tilai dia orang malas. Mengapa dia bisa begitu berbanding terbalik? Ternyata di rumahnya dia sangat takut terhadap bapaknya yang memang bisa dibilang otoriter dan juga keras kepala. Menurut pengakuan teman-teman terdekatnya itu mengapa dia bisa berubah di pesantren menjadi sosok yang santai dan malas, dia sendiri pernah bilang kepada teman-temannya alasan mengaoa hal itu dia lakukan di pesantren karena sebagai bentuk ajang balas dendam lantaran di rumah dia sangat merasa tertekan. Sehingga ketika dia tinggal di asrama dia bisa bebas melakukan hal apapun karena tidak ada perintah ataupun ancaman dari Bapaknya yang menakutkan, meski pada akhirnya dia sering mendapatkan hukuman lantaran hasil dari sifat santai dan malasnya itu. Meski dihukum tapi menurutnya hukuman itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan saat dia berada di rumah.

Saya pernah berada di posisi anak asuh saya itu. Dulu saat saya duduk dibangku sekolah dasar saya kerap kali dipaksa untuk belajar dan dituntut untuk bisa menduduki ranking satu. Setiap malam sehabis sholat maghrib saya selalu dipaksa untuk belajar. Tak jarang dulu saya sering dipukul oleh Bapak saya lantaran saya malas belajar. Beberapa kenangan buruk pun selalu saja muncul saat saya mendengar mengenai keinginan orang tua. Dulu jidat saya pernah dipukul lantaran saya mulai mengantuk saat Bapak saya sedang mengajarkan Matematika kepada saya. Waktu itu jam sudah menunjukkan jam sembilan lebih bahkan hampir setengah sepuluh. Saat itu saya duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga. Waktu dimana seharusnya saya sudah beristirahat. Tak hanya sampai itu, saya masih ingat saat hasil ulangan sekolah agama saya jeblok. Waktu itu guru saya minta agar hasil ulangannya itu ditanda tangani oleh orang tua sebagai bukti memperlihatkan hasil ulangan kepada orang tua. Kalau nilai kecil kan suka diumpetin ya biasanya hasil ulangannya karena takut dimarahi orang tua. Nah waktu itu parahnya guru saya justru minta buat ditanda tangani kertas ulangan yang sudah di nilai itu. Kalau tidak salah waktu itu pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dan satu kelas itu nilainya jeblok semua.  Perasaan saya waktu itu campur aduk lantaran saya takut Bapak marah kepada saya. Sebelum saya memberikannya kepada Bapak terlebih dahulu saya memberikannya kepada Ibu saya. Ibu hanya diam melihat angka 3 terpampang jelas di atas kertas ulangan milik saya. Dari raut wajah Ibu saya sudah bisa menebak ada kekhawatiran bahwa Bapak akan memarahi saya habis-habisan. Rupanya hal itu benar-benar terjadi. Saat Bapak pulang dari bengkel, Bapak langsung bertanya soal hasil ulangan saya. Saya yang waktu  itu masih kelas 3 juga langsung membawa hasil ulangan saya dengan hati deg-degan takut dimarahi. Saat saya menyerahkan hasil ulangan saya itu belum juga saya angkat bicara Bapak sudah lebih dulu merobek kertas ulangan saya menjadi potongan-potongan kecil sambil berteriak marah. Sontak saya pun menjerit dan saya pun sama marahnya kepada Bapak. Buru-buru saya memunguti kertas ulangan saya itu sambil menangis terisak dan tak menghiraukan amukan Bapak. Yang saya fikirkan saat itu saya tidak ingin dihukum oleh guru saya gegara kertas ulangan saya yang hancur berantakan seperti ini. Saya langsung berprasangka bahwa nanti guru saya akan berifikir bahwa kertas ulangan saya ini saya robek sendiri lantaran takut ketahuan orang tua. Sambil menangis saya menyusun kembali potongan-potongan kertas ulangan saya itu dan saya rekat sendiri dengan menggunakan selotip bening. Ibu saya hanya menyaksikan saya, tidak ikut membantu apalagi menenangkan. Setelah saya bicara kepada Bapak dengan nada kesal, Bapak akhirnya diam dan menandatanganinya dengan asal. Keesokan harinya saat saya memperlihatkan tanda tangan di kertas ulangan saya yang robek itu guru saya pun bertanya bahkan kesalnya si ibu menyatakan apa yang menjadi prasangka saya semalam. Bahwa saya sendiri yang meyobekkan kertasnya. Setelah insiden itu terjadi, setiap ada ulangan saya sering mencotek kepada teman-teman saya atau saya nekat membuka catatan pelajaran lantaran saya takut hal itu terjadi lagi.

Namun setelah Bapak merubah pola asuhnya dengan tidak menekan anak-anaknya untuk memenuhi ekspektasinya, saya bisa leluasa melakukan apa saja yang saya mau tanpa merasa terbebani. Lambat laun saya jadi sadar sendiri bahwa belajar adalah tanggung jawab diri sendiri. Jika saya menjadi ranking satu berarti ada yang bisa dibanggakan dari diri saya. Bahkan setelah itu saya tidak lagi mencotek kepada teman-teman saya ataupun membuka catatan saat ulangan. Karena saat hasil itu keluar mau berapa pun Bapak tidak lagi marah, yang penting kata Bapak, Bapak sudah melihat bagaimana saya berusaha dalam artian belajar. Bapak bilang hasil akhir tetap Allah yang menentukan. Dari sanalah Bapak selalu menasehati saya untuk berusaha keras, tidak lupa untuk senantiasa berdoa meminta yang banyak kepada Allah setelah itu hasil akhir serahkan pada Allah. Setelah Bapak menasehati itu hidup saya lebih ringan dan saya lebih bertanggung jawab terhadap apa yang harus saya lakukan sebagai seorang anak.

Saya berdoa semoga Bapak santri saya itu bisa berubah pola fikir serta pola asuhnya seperti Bapak saya. Karena setiap anak terlahir dengan segala kelebihan dan kekurangan. Mengapa mesti kekurangan saja yang selalu disoroti jika kelebihan bisa menutupi kekurangan?

Salam hangat,

Sumber gambar:

https://pixabay.com/id/photos/perjalanan-keluarga-kontur-bayangan-933171/

1 thought on “Tuntutan Orang Tua Terhadap Anaknya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *