Unforgettable Moments

Bagian 1: Tentang Ibu dan Saya Malu

Tak perlu diragukan lagi bagaimana sosok wanita tangguh yang biasa kita panggil dengan sebutan Ibu, Mamah, Ummi, Bunda, Mom, Ambu, Mamih memperjuangkan kehidupan kita dari mulai kita lahir sampai kita dewasa.

Apa moment yang tak bisa kamu lupakan saat kamu mengingat sosoknya itu?

Let me tell you here.

Saya memanggilnya Mamah. Usianya kini sudah menginjak empat puluh delapan tahun. Banyak hal yang telah dilalui bersamanya. Sayangnya, saya belum bisa menjadi sosok anak yang taat dan patuh baginya. May Allah always protect you Mom.

Kesalahan terbesar saya pada beliau yang masih bahkan akan terus saya ingat adalah saya pernah malu memiliki Mamah seperti sosok beliau. Hal ini terjadi ketika saya duduk di bangku TK. Saya masih ingat bagaimana seorang murid baru itu hadir dengan karakter yang unik, katakanlah dia di kelas paling susah diatur dan orangnya juga galak. Sehingga tidak ada satupun anak-anak di kelasnya yang mau mendekatinya, kecuali saya sendiri. Saya memberanikan diri untuk mendekatinya ketika dia sedang makan snack di bawah meja. Lalu dia mengajak saya untuk makan bersama dan saya hanya menggelengkan kepala.

Seperti biasa, pulang sekolah saya selalu dijemput Mamah. Beberapa kali anak baru itu memperhatikan Mamah saya. Sampai ke esokan harinya, dia berkata di depan teman-teman saya semua,

“Ih Mamahnya Ihat giginya hitam.”

Sontak saya kaget mendengarnya. Bukannya membela, saya malah diam lalu langsung duduk di bangku. Saat pulang sekolah, Ibu guru saya memberitahukan bahwa besok akan diadakan rapat orang tua lalu membagikan surat undangan rapat. Saat sampai di rumah, saya langsung memberikannya kepada Mamah. Nah, ketika sore hari barulah Mamah membicarakan perihal udangan rapat itu kepada Bapak.

“Ya sudah besok Mamah saja yang ikut rapat.” Ucap Bapak.

Saat itu saya langsung menolaknya.

“Jangan! Mamah jangan ke sekolah! Malu! Gigi Mamah hitam.”

Suasana rumah pun hening. Saya masih ingat sekali bagaimana tatapan Mamah saat itu. Tak lama Mamah pun menangis.

Kemudian saya dimarahi Bapak lantaran saya tidak sopan berkata seperti itu. Sayangnya, saat itu saya tidak mengerti mengapa Mamah meski menangis saat saya berkata seperti itu?

“Teman Ihat yang bilang gitu,” jawab saya polos ketika Bapak bertanya mengapa saya bisa malu tentang Mamah sendiri.

Hari-hari berlalu dengan cepat. Bapak tak pernah lupa bahkan tak pernah bosan untuk mengingatkan saya soal hal itu. Hingga akhirnya ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar saya baru menyadari bahwa perkataan saya dulu itu sangat menyakiti hati Mamah. Kemudian saya menangis dan meminta maaf.

Jujur. Saya takut jika suatu saat nanti anak saya akan melakukan hal demikian pada saya.

Ya Allah maafkan atas ketidak tahuan hamba dulu.

Mamah…

Forgive me.

Sumber gambar:

www.pixabay.com

3 thoughts on “Bagian 1: Tentang Ibu dan Saya Malu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *