Catatan Harian

Semua Kini Menjadi Bermakna

Seneng aja tiap liat kamu, gak tau kenapa. Meski hanya sekedar papasan di jalan atau saat aku melihatmu dari kejauhan. Apalagi saat kamu bertanya padaku meski aku tau itu hanya basa-basi. Beberapa kenangan yang dulu aku anggap biasa saja nyatanya mampu membuatku tersenyum sendiri saat mengingatnya.

Awal mula dari telfon kantor, kemudian soal lab komputer, aku yang tidak kebagian kursi duduk hingga akhirnya duduk di kursi sampingmu, tiket kereta aku yang hilang kemudian kamu melihat kepanikan yang tercipta di wajahku. Lalu aku yang kerepotan membawa barang-barang sendiri hingga kamu datang dan merebutnya sendiri. Kamu yang tahu dan faham betapa sulitnya aku untuk bisa terlepas dari belenggu masa lalu hingga akhirnya kamu menyadarkan aku bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan di dunia ini dan semuanya sudah ada kadarnya sendiri. Kamu yang pernah cerita soal masa lalu kamu sendiri hingga akhirnya kamu bisa melepaskan kepergiannya.

Aku ingat saat waktu mulai memasuki tengah malam, ditengah lampu yang mulai dipadamkan kamu memberiku sebuah kode untuk berbicara berdua saja, hanya aku dan kamu. Awalnya aku tidak faham bahkan ragu atas isyaratmu itu tapi ternyata benar. Dengan ditemani yang lain akhirnya obrolan pun terhenti di jam tiga pagi. Satu kata yang membuatku kaget saat kamu bilang,

“Kamu itu terlihat kuat dari luar padahal di dalam kamu sangat rapuh.”

Aku hanya bisa diam membeku saat kamu mengucapkan kata itu. Memang benar dan sangat benar. Kamu yang ternyata diam-diam tau bagaimana diri aku yang sebenarnya tanpa harus aku mengungkapkannya sendiri. Kamu yang memberiku nasihat dengan gemas soal kopi yang aku pesan. Bahwa kopi itu rasanya pahit namun aku tetap bandel tidak mengikuti nasihatmu. Hingga akhirnya saat pesanan kopi itu datang dan aku tidak mampu untuk meminumnya lantaran rasanya pahit lalu kopimu tersenggol hingga isinya habis tak tersisa, kamu malah mengambil alih kopiku dan menghabiskannya. Sementara aku? Aku memesan lagi dengan pesanan yang baru.

Setelah itu tak ada lagi komunikasi-komunikasi di antara aku dan kamu. Dan yah aku juga sadar diri, kamu sudah memiliki perempuan lain yang jauh sempurna dari diri aku sendiri. Aku fikir mungkin  kita tidak akan lagi berkomunikasi se intens dulu. Nyatanya meleset! Soal lab komputer kembali lagi terulang dan komunikasi di antara kita kembali sering. Tak cukup di situ, bahkan skenario-Nya memberiku kesempatan untuk melihatmu mengajar dihadapan anak-anak asuhku sendiri. Hingga insiden alat musik yang tak terurus yang sempat membuatku uring-uirngan tak karuan karena takut disalahkan.

Kini semua menjadi bermakna saat hati mulai bicara

Saat aku fikir hal-hal itu biasa nyatanya semuanya terasa luar biasa saat aku mengingatnya. Aku yang selalu terlihat konyol dihadapanmu, aku yang tak bisa menyembunyikan luka saat berbicara denganmu, juga aku yang bisa mengeluarkan pendapatku sendiri dihadapanmu dan tak peduli dengan penilaianmu.

Meski aku sadar semua ini hanyalah ilusi yang aku ciptakan sendiri.

Bagiku memendam semua ini sendiri sudah lebih dari cukup. Melihatmu dari jauh saja sudah membuatku bersyukur. Aku tak ingin meminta banyak. Hanya minta cukupkan saja perasaan ini sampai di sini biar semuanya mengalir dengan sendirinya.

Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *