Tulisan ini dibuat karena terinspirasi dari vlognya Kak Gita Savitri yang berjudul “Kenapa Harus Malu?” Flashback ke zamannya aku dulu as the title that I was shame with my life. When I was youngster, I was shame dengan kondisi gigi Mamah aku yang hitam sampai akhirnya aku gak mau beliau datang ke sekolah buat menghadiri acara rapat. Kemudian aku pernah malu lantaran rumah aku yang terbuat dari bilik bambu dan panggung berada di atas kolam ikan sementara rumah teman-teman aku rumahnya terbuat dari batu bata yang di cat bagus. Aku pernah malu juga saat Bapak aku mengantarkan aku ke sekolah menggunakan sepeda motor Honda jadul yang berwarna merah sementara teman-teman aku mereka diantarkan ke sekolahnya sudah menggunakan motor matic mio keluaran terbaru saat itu.

Beranjak remaja, aku malu dengan kondisi fisik aku. Dimulai dari wajah aku yang jerawatan, badan aku yang gemuk, dan juga dengan beberapa barang yang belum bisa aku miliki. Aku sempat malu saat teman-teman aku sudah punya handphone sendiri sementara aku belum punya. Kemudian setelah aku punya handphone sendiri tetap saja aku masih malu lantaran handphone yang aku punya ternyata tidak sebagus yang teman-teman aku miliki. Saat itu aku marah pada diriku sendiri dan juga orang tuaku, mengapa aku dilahirkan di keluarga yang biasa saja? Mengapa aku tidak dilahirkan di keluarga yang serba cukup bahkan lebih dari cukup?

Beranjak dewasa, aku mulai menyadari dan faham bahwa kita tidak bisa memilih pada Rahim mana kita akan hidup dan dilahirkan. Setelah itu aku tak lagi mempermasalahkan urusan financial keluarga, karena nyatanya mencari uang itu tidaklah mudah. Namun masih saja ada hal yang membuatku insecure atas kehidupan yang aku miliki. Lagi-lagi, I am shame with my life who isn’t beautiful, smart, and also I’m fat. Besides, urusan asmaraku yang kerap kali gagal membuat aku kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri. Ditambah pertanyaan orang-orang sekitar yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. Kayak, “Kapan nikah?” “Kapan lulus?” “Kerja di sana aja gak mau coba di luar?” Udahlah fix! Aku tambah bete!

Aku baru berani mengungkapkan segala kekurangan aku itu sekarang. Aku juga tidak mengerti entah dari mana keberanian ini muncul. Dulu boro-boro bisa bilang apa yang sebenarnya aku punya. Aku dulu cuma diam aja biar orang lain yang menyaksikan sendiri gimana kehidupan aku yang sebenarnya. Dulu gak tahu kenapa gengsi aja kalau kehiduapan orang tua aku pas-pasan; rasanya kayak aib gitu. Padahal kalau difikir-fikir sekarang kenapa mesti malu sih? Ya hidup kan harusnya tampil apa adanya jangan dibuat-buat. Jangan karena ingin terkesan oleh orang lain. Capek sih kalau hidup terus-terusan ngikutin omongan orang. Gak akan ada habisnya. Sekalipun kita ngikutin omongan mereka gak jamin bikin mereka berhenti ngomongin soal kehidupan kita. Pasti selalu saja ada kurangnya. Yah kita kan gak bisa ngontrol omongan mereka.

Aku setuju sih sama apa yang udah Kak Gita bilang di videonya bahwa kita gak perlu malu atas hal apapun yang menimpa kepada kita, atas penyakit yang kita derita, kekurangan yang kita miliki, masalah-masalah yang kita hadapi. Tapi sayangnya entah kenapa dilingkungkan sekitar aku kayak yang menuntut hidup itu harus sempurna gitu, jangan sampai ada celahnya. Punya penyakit bukannya di support ini malah jadi bahan gunjingan. Kemudian karena kerja di tempat biasa aja, gak jadi manager, atau gak jadi orang kantoran yang berseragam dibilangnya kasian ya kerjanya cuma jadi kasir, misal. Atau jauh-jauh sekolah sampai S1 eh kerjaanya apa coba? Masa diem di rumah aja. Hello!! To be honest, I hate this one. Kita yang jalanin tapi kalian yang ribut. What’s wrong? Dalam hidup ini yang terpenting adalah mendapatkan keberkahan atas apa yang kita lakukan. Percuma gaji gede kalau gak bikin hati tentram. Percuma punya harta melimpah kalau gak bikin hidup kita bahagia. Percuma punya jabatan tinggi kalau ujung-ujungnya dilaporkan ke polisi lantaran ambil jalan pintas.

“Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

Love,