Catatan Harian

Teman tapi “Lupa” Maybe?

Zaman SMP aku pernah punya temen. Terbilang cukup dekat lah, meski aku tidak menyebutnya sebagai seorang sahabat karena itu terlalu menjijikan buat aku. Entah karena aku dulu berotak encer di kelas, sering bersaing bersama dia di urutan tiga besar di kelas, ditambah dulu itu aku ketua OSIS Putri yang membuat dia selalu ingin bersamaku, hingga pada saat pendaftaran masuk SMA pun dia minta agar aku bisa masuk SMA pilihannya namun keinginan itu aku tolak. Pendidikan ya urusan pendidikan tidak bisa dicampur adukan dengan urusan pertemanan. Aku juga punya pilihan sendiri saat itu. Meski pada akhirnya aku masuk sekolah sederhana yang memang bukan pilihanku.

Singkat cerita dia lolos ke SMA impiannya. SMA favorit di kota kelahiranku. SMA yang terbilang elit yang murid-muridnya kebanyakan berasal dari keluarga terpandang. Karena perbedaan sekolah itulah aku dan dia jarang berkomunikasi hingga akhirnya kami komunikasipun terputus. Akun Facebook, Twitter yang biasa selalu digunakan mendadak tidak aktif. Tiap ada acara reuni tak pernah hadir. Nomor hpnya diganti, di grup gak pernah gabung. Seolah dia sengaja menarik diri dari pertemanan SMP nya. Hingga akhirnya pada suatu hari aku bertemu dengan dia. Aku dengan senangnya melambaikan tangan dari balik jendela angkot sementara dia? Apa yang dia  lakukan atas lambaian tanganku dari balik jendela mobil rush hitam? Membalas dengan senyum sumringrah kah karena bertemu sahabat lagi atau sebaliknya?

Shit! Ternyata pilihan kedua itulah yang dia pilih. Aku yang selama ini teman dekatnya semasa SMP dia buang gitu aja. Pura-pura enggak kenal, gak mau silaturahmi dengan teman semasa SMP. Bukankah itu menyakitkan? Hingga akhirnya dia benar-benar tak lagi mengingat aku dan teman-teman SMP lainnya. Dia hanya mau mengingat satu orang saja yang mungkin satu level sama dia. Iya sih, aku mah apa atuh. Gaji kerja juga pas-pasan, buat kuliah aja harus berjuang dulu, gawe dulu. Bukan aktifis kampus, atau yang kaum sosialita yang sering nongkrong-nongkrong di kafe-kafe kopi mahal. Otak juga pas-pasan, udah bisa kuliah juga udah syukuran banget meski banyak bolongnya karena harus mengurus pekerjaan juga.

Sampai DM Instagram aja gak dibaca-baca tapi share status masih. Apa harus jadi sukses dulu biar bisa berteman sama dia? Apa harus menjadi bintang dulu agar bisa bermain seperti dulu lagi?

 

Curcol gaje,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *