Catatan Harian

Selalu Ada Hal Yang Harus Dikorbankan

Hai, saya mau cerita nih semoga cerita ini bisa membantu teman-teman yang hendak melakukan dua hal dalam satu waktu secara bersamaan.

Sebenarnya bisa enggak sih kita melakukan berbagai macam hal dalam satu waktu secara bersamaan? Contohnya kuliah sambil aktif di organisasi, kuliah sambil wirausaha, kuliah sambil kerja, ngurus rumah tangga sambil kerja, atau ngurus rumah tangga sambil kuliah. Teman-teman di sini ada yang sedang melakukan kegiatan-kegiatan tersebut? Bagi saya hebat yang bisa mengerjakan kedua hal tersebut secara bersamaan dengan porsi yang sama. Artinya kedua-duanya berhasil dijalankan dengan seimbang. Tapi dari pengalaman saya pribadi dan juga saya melihat dari pengalaman orang-orang di sekitar saya, hal itu sulit untuk bisa dilakukan secara seimbang. Pasti ada satu hal yang harus dikorbankan.

This is about me

Jadi ini based on my experience. Posisi saya saat ini adalah saya sebagai room guide anak-anak di salah satu Pondok Pesantren dan posisi lain saya adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan tugas skripsi. Jujur dari awal saya kuliah, meski pada awalnya terasa berat pada akhirnya saya harus memproritaskan pekerjaan saya di atas kuliah saya. Mengapa? Ya kalau saya lebih mementingkan kuliah kemudian kerjaan terbengkalai dan saya dapat teguran apalagi sampai di drop out dari kerjaan, kuliah saya juga bakal berantakan kan? Lagi pula saya enggak punya tabungan khusus buat biaya kuliah. Jadi untuk pembiayaan kuliah, bekal, ongkos dan segalanya saya mengandalkan dari gaji bulanan saya sendiri. Masuk kelas karyawan, IPK pas-pasan di angka 3,3 alhamdulillah segini juga, sering izin, bahkan di detik-detik terakhir saya rela melepaskan apa yang seharusnya saya perjuangkan hingga akhirnya skripsi saya terbengkalai dan harus memperpanjang SK bimbingan. Gak apa-apa gak lulus tepat waktu juga yang penting saya lulus. Dengan cara seperti itu saya menghibur diri saya. Managing time itu bukan sesuatu yang mudah lho! Apalagi yang bekerja seperti saya harus pinter-pinter memanfaatkan waktu. Meski kuliah saya kini harus molor satu semester tapi alhamdulillah kerjaan lancar dan atasan pun jarang mengomeli saya.

Mementingkan Kuliah sampai SP2

Ini terjadi pada teman seperjuangan saya tiga tahun yang lalu. Dia mengambil program D3 Keperawatan. Dia sibuk sekali kuliahnya, Senin hingga Sabtu tidak ada jedanya. Pulang dari kampus langsung mengerjakan tugas. Malamnya yang seharusnya dia mengurusi santri asuhnya dia malah tertidur lantaran lelah seharian dengan kegiatan kampus. Anak-anak asuhnya kurang terurus, tugas-tugas yang lainnya banyak yang tidak bisa dia lakukan, sampai-sampai hal ini membuat jengkel teman-teman sekitar. Hingga akhirnya surat peringatan satu pun melayang padanya. Dia menangis. Namun tetap saja dia bersikukuh bahwa kuliah adalah nomor satu baginya. IPKnya nyaris sempurna, ditambah dia mahasiswa terajin di kelasnya, dan mendapat beasiswa dari kampusnya lantaran IPKnya yang bagus itu. Tetapi sekali lagi apa yang kita perjuangkan berarti harus ada yang dikorbankan. Selang beberapa bulan surat peringatan dua melayang lagi kepadanya. Dia tak bisa jika harus memprioritaskan pekerjaannya. Akhirnya dengan modal nekat dia pun memutuskan resign dari Pesantren.

Anak Sendiri atau Anak Orang Lain

Ini terjadi pada teman kerja saya yang baru. Statusnya adalah istri sekaligus ibu tiga orang anak. Akhir-akhir ini teman saya ini jarang sekali masuk bekerja. Tiap piket selalu saja ada alasan, entah itu sakitlah, kemudian pergi ke luar, anak sakit, dan yang lainnya. Lagi-lagi hal ini membuat teman-teman lainnya jengkel setengah mati lantaran jadwal yang sudah dibuat jadi berantakan. Ditambah dia ini orangnya pelupa, lambat, dan bikin kita harus selalu banyak istighfar. Sakit ya wajar gitu tapi kalau keseringan sakit? Bagi saya itu udah gak wajar. Saat seseorang sering sakit berarti itu ada sesuatu yang sedang terjadi pada dirinya. Eh ternyata benar. Tak butuh waktu lama akhirnya dia pun bercerita soal dirinya yang dilema antara mengurus anaknya sendiri atau mengurus anak orang lain. Lha bukannya seharusnya sebelum memutuskan untuk bekerja hal tersebut sudah menjadi pertimbangan bukan? Kemudian harus sudah siap menanggung resiko atas apa yang telah dipilih. Karena sebelum bekerja di sini kan teman saya yang lain sudah memberikan gambaran mengenai menjadi wali asuh itu bagaimana dan seperti apa. Nah sekarang kan karena gak bisa fokus dua-duanya jadi terbengkalai. Anak sendiri terbengkalai pekerjaan apalagi.

Cerita dari Teman yang Lain

Teman saya yang satu ini meski sudah menikah urusan kerja dia gercep, bukan urusan kerja aja sih segala halnya juga dia gercep. Bahkan kita-kita yang masih single kalah cepat dibandingkan dia. Ternyata rahasia dari teman saya ini yang sudah beranak tiga adalah kerja sama bersama suami. Ini kasusnya kalau udah berumah tangga ya. Jadi urusan mendidik anak, mengajari anak, membersihkan rumah ditanggung berdua. Misal si istrinya bagian shift pagi nah berarti urusan di rumah jadi tanggung jawab suami begitu juga sebaliknya. Jadi enak kan kalau semuanya dilakukan secara bersama tidak saling mengandalkan?

Nah begitulah teman-teman semua semoga bisa menjadi hikmah untuk diri saya sendiri terutama dan untuk kita semua pada umumnya.

Fighting,

1 thought on “Selalu Ada Hal Yang Harus Dikorbankan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *