Catatan Harian

Apakah Hanya Sebatas Mimpi?

Pernahkah kalian bermimpi tapi mimpi itu seolah-oleh seperti cerita bersambung? Meski tidak setiap hari hadirnya, namun saat mimpi itu hadir seolah mimpi itu adalah sambungan dari mimpi-mimpi sebelumnya? Kali ini aku sedang mengalaminya. Meski baru hadir tiga kali tapi rasanya aneh, tidak percaya, bahkan mustahil seseorang yang tak pernah aku bayangkan wajahnya sebelum tidur atau seseorang yang tak pernah aku fikirkan sebelumnya tiba-tiba hadir dalam mimpiku.

Aku terdampar di sebuah hutan dengan menggunakan pakaian pramuka lengkap dengan atributnya sementara itu aku melihat teman-temanku yang berada di sekitarku mereka justru menggunakan baju bebas. Aku mengerutkan kening, mengapa aku menggunakan baju pramuka? Aku kan bukan  seorang murid lagi? Teman-temanku begitu asyik bercanda satu sama lain dan mengacuhkan kehadiranku. Sayup-sayup aku mendengar obrolan dari sebrang tempat kami berada. Sebuah warung kecil dengan lampu temaram beberapa laki-laki sedang asyik mengobrol dengan tangan memegang gelas cangkir berisi kopi. Langit semakin gelap dan teman-temanku segera menyebrangi sungai kecil yang ada dihadapan kami menuju warung kecil itu. Aku sendiri justru malah bengong melihat teman-temanku yang buru-buru menyebrangi sungai. Tak lama penglihatanku tertuju pada seseorang berbaju kaos merah yang keluar dari warung kecil itu. Aku terkejut tak percaya melihatnya. Dia hanya memandangiku dengan tatapan dingin. Sadar hanya tinggal aku sendiri, aku panik tak bisa menyebrangi sungai kecil itu. Sementara itu rombongan teman-teman semua telah siap pergi meninggalkanku. Aku berteriak meminta tolong, namun teriakanku diabaikannya hingga akhirnya mereka melanjutkan perjalanan.

Entah bagaiman jadinya tiba-tiba saja aku sudah berada di belakang rombongan teman-temanku itu. Dengan nafas tersengal-sengal dan ketakutan yang menjalar aku mencoba menyusul dan mengimbangi langkah mereka.

Lagi-lagi. Seseorang berbaju merah itu menengok ke arahku dan menghentikan langkahnya. Dia kembali memandangku lekat-lekat.  Aku buru-buru membuang muka. Rasa takut bercampur gede rasa menyelimutiku kala itu.

Mimpiku berakhir lantaran adzan awal berkumandang.

Hari itu aku terbangun di jam tiga pagi. Melihat seisi ruangan yang masih terlelap dalam tidurnya membuatku kembali mencoba memejamkan mata. Namun nyatanya mataku tak bisa dipejamkan lagi. Aku hanya bisa memandangi langit-langit ruangan sambil berusaha keras mengumpulkan kepingan-kepingan mimpi yang baru saja aku lalui.

Mengapa dia hadir dalam mimpiku? Aku tau mustahil untuk bisa hidup bersamanya. Lagi pula selama ini aku tak menyimpan rasa yang lebih padanya.

Aku terus berfikir keras apa yang menyebabkan aku memimpikannya. Saat aku membuka handphone ternyata aku lupa sebelumnya aku saling bertukar pesan dengannya. Masa semudah itukah? Hanya gegara chattan  jadi terbawa mimpi?

Love,

Sumber gambar:

www.pixabay.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *