Catatan Harian

Bunga Tidur: Sebuah Peringatan

Bunga tidur siang kemarin memang benar-benar mengingatkanku sekaligus menampar aku bahwa dia memang bukan aku. Siang itu saat aku tak kuasa menahan kantuk, aku pun tertidur dengan sendirinya di atas kasur setelah membaca surat dari santriku.

“Pokoknya salamin ya ke pacarnya itu!”

Aku terdampar di sebuah kafe dengan dekorasi yang elegan. Dindingnya bercat cream ditambah hiasan-hiasan barang jadul membuatku nyaman berada di kafe ini. Aku menikmati ruangan kafe ini sendirian dengan ditemani secangkir Cafe Latte sebelum akhirnya rombongan cewek-cewek modis datang menghampiri dan menempati meja-meja di sampingku.

Pandanganku langsung tertuju pada salah satu dari rombongan cewek-cewek modis itu. Tubuhnya tinggi semampai, kulit putih, bola matanya kecoklatan, dan bibirnya yang berwarna pink alami menjadi daya tariknya sendiri. Sadar dirinya diperhatikan dia pun balas menatapku sambil tersenyum lalu kembali bergabung bersama teman-temannya. Saat teman-temannya sedang sibuk memilih menu, dia justru malah mendekat ke arah mejaku seraya berkata,

“Gak usah berharap. Dia milikku.” Senyum licik tersungging dari bibirnya lalu dia pergi menjauh.

Aku kembali terdiam, menatapnya dengan tatapan kecewa. Hingga akhirnya aku terbangun lantaran temanku membangunkan aku.

“Udah ashar. Bangun.”

Yah, mimpi lagi? Hanya gegara surat yang dibaca sebelum tidur itu? Tapi entah mengapa rasanya kok nyesek ya?

Regards,

Sumber gambar:

www.pixabay.com

1 thought on “Bunga Tidur: Sebuah Peringatan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *