Books

[Review] Novel Nyala Semesta – Farah Qoonita

Judul : Nyala Semesta

Penulis : Farah Qoonita

Jumlah Halaman : 300 hlm

Penerbit : Kanan Publishing

Genre : Novel Action Thriller

Membaca novel ini membuatku kembali mengenang masa-masa penulisan paper / karya tulis ilmiah di tingkat akhir Madrasah Aliyah. Pada waktu itu aku mengambil judul Peran Muslim Indonesia Terhadap Konflik Palestina – Israel. Sempat dikritik kepala sekolah lantaran judulnya terlalu tinggi. Namun karena saking cintanya pada Palestina tanpa hambatan yang berarti aku bisa menyelesaikan tugas akhirku dengan nilai sempurna. Meski pada proses penulisannya aku sempat terkendala dalam mencari informasi dan berita-berita mengenai konflik berkepanjangan ini.

Blurb

“A ship in harbor is safe, but that’s not why ships are built.”

Keluarga Khaled harus menghadapi ancaman kematian berkali-kali untuk menjaga tanah airnya, Gaza-Palestina. Dunia mereka meledak saat Israel merencanakan misi berbahaya, menyadap seluruh Gaza. JIka, seluruh informasi bisa diketahui dan dikacaukan, tak butuh waktu lama Gaza akan runtuh.

Di tengah keterbatasan, mereka harus mampu mengalahkan kecanggihan teknologi Unit 8200-Cyber Attacker, IDF (Israel Defense Force), IAF (Israeli Air Force), dan Mossad, salah satu badan intelejen terkuat di dunia.

Selama berpetualang, merasakan bara perjuangan yang menyala-nyala!

Sinopsis

Kisah ini bermula dari Mushab anak dari Khalid yang merupakan salah satu petinggi Hamas yang memilih untuk kuliah di luar negeri tepatnya ke Turki. Beberapa nasihat dilontarkan Khalid sang ayah kepada anaknya salah satunya adalah agar tidak membocorkan identitas pribadi. Hingga suatu hari dia bertemu Umar di sebuah acara kepalestinaan yang bertempat di pusat kota Istanbul. Dari sinilah awal mula masalah tercipta.

Pengkhianatan pun terjadi saat Mushab kembali lagi ke tanah kelahirannya Palestina. Ayahnya, Khalid akhirnya masuk penjara Israel dengan siksaan yang bertubi-tubi. Belum lagi pengkhiantan yang lainnya adalah dengan meloloskan beberapa kawanan mata-mata dari Israel yang menyamar sebagai relawan asing.

Meski pada akhirnya Khalid dibebaskan dari penjara namun rasa kecewa yang akhirnya menyelimuti hatinya. Dia tidak percaya bahwa selama ini yang menjebloskan dirinya kepenjara adalah anak kesayangannya sendiri.

Opini

Novel ini benar-benar menggambarkan bagaimana situasi di Gaza, Palestina. Penulis mampu menceritakan peperangan diantara kedua negara ini dengan jelas dan rinci. Bahkan aku sendiri kesulitan saat harus membayangkan beberapa nama senjata yang digunakan oleh tentara Israel. Kebengisan mereka terhadap rakyat Palestina di penjara dipaparkan secara gamblang dan aku pun ikut terhanyut oleh alur ceritanya. Jengkel, kesal, kecewa, sekaligus terharu saat membaca novel ini. Selain itu novel ini pun memberikan pelajaran kepada kita bahwa kita harus senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini. Jika harus dibandingkan dengan penderitaan rakyat Gaza, Palestina kita tidak ada apa-apanya. Sayangnya di novel ini penulisan nama Khalid ada dua versi. Di blurbnya Khaled namun di dalam novelnya Khalid.

Quotes from this Novel

Jangan takut, Allah selalu bersama kita. – Khalid hlm 23

Sejak kecil kau belum melihat dunia luar. Gaza adalah kota sempurna untuk ruhiyahmu. Semua kemewahan perjuangan bisa kau rasakan di sini. Tapi di luar sana? Tak ada yang bisa menjamin! Kau akan melihat segala fasilitas, kemewahan, dan kesenangan hidup di sana. Lisrik 24 jam, air bersih selalu tersedia, makanan enak hingga perutmu buncit, liburan tanpa takut serangan rudal Israel. Kalau kau mau, kau bisa jadi apa pun di sana, kami tak pernah tau. Klub malam, menegak bir, mengonsumsi obat-obatan. – Khalid hlm 27

Maryam tahu tidak, dalam sejarah perjuangan umat Islam, matematika manusia justru yang bisa mengalahkan kita. – Hannah hal 47

Terakhir, jangan pernah mengejar mimpi seorang diri. Jangan pernah melesatkan batu-batu itu sendirian. Selalu sertakan Allah. Jangan lupakan surat Al-Anfal ayat 17, baru saja kita bahas tadi. Surat Al-Anfal adalah dendangan para Syuhada, dendang para pejuang sejati, coba bacakan Yusuf. – Syeikh Musa hlm 70

Kita mulia bukan karena harta, bukan karena baju dan kendaraan kita, kita mulia karena Allah! – Hannah hlm 96

Kesederhanaan adalah kunci kemenangan. – Hannah hlm 97

Tentang Penulis

Farah Qoonita dalam dunia kepenulisan telah menerbitkan buku pertama, Seni Tinggal di Bumi. Aktif menulis dan membuat konten di instagram @qoonit.

Sejak 2016 ia mulai berkenalan dengan isu kepalestinaan lebih dalam, Berawal dari skripsi “Penjajahan Palestina oleh Israel di Tempo” sebagai tugas akhir Jurnalistik Fikom Unpad. Sembari mengerjakan proyek edukasi Palestina untuk milenials Untold Story. Saat ini ia bekerja sebagai Campaign Manager di SMART 171.

Alhamdulillah… pada 2016 dan 2019, bersama SMART 171 turun ke perbatasan Turki Selatan untuk menyampaikan bantuan kepada pengungsi Suriah dan Palestina, juga mengikuti Konferensi Internasional Al-Aqsha. Terakhir, yang sedang berlangsung (2020) proyek edukasi milenials Baik Berisik.

Tak ada yang Allah ciptakan sia-sia. Begitu juga dengan dunianya Palestina. Inilah yang akhirnya mendorong Qoonita untuk menciptakan Nyala Semesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *