Catatan Harian

Pura-Pura Tak Terjadi Apa-Apa

Kemaren Mama telfon aku dengan bangganya Mama bilang,

“Hat, si Ido dapet gelar Mahasiswa Terbaik.”

“Oh, pas kemaren acara ospek?” kataku sebisa mungkin menetralkan suara.

“Iya. Nanti photonya Mama kirim.”

“Ya.”

“Dikasih mahkota juga, duh di dunia aja udah ngasih mahkota gimana nanti di akhirat.” Ya Allah kuatin hati aku, please don’t cry. “Dikasih Qur’an juga hadiahnya.”

Alhamdulillah atuh Ma,” jawabku singkat dengan bibir bergetar.

“Ihat? Enggak apa-apa kan?”

“Enggak Ma,” jawabku cepat.

“Oh ya udah atuh ditutup dulu ya.”

Klik.

Pengen nangis asli dengernya. Nangis bahagia dan juga sedih tentunya. Bahagia ternyata ade aku bisa eksis di kampusnya dan sedih lantaran sebelum Mama telfon, paginya aku habis dimarahi dengan bahasa kasar oleh pemilik yayasan tempat aku bekerja..

“Maneh gawe naon di dieu?”

Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia emang biasa aja gak ngaruh, tapi kalau kamu faham bahasa Sunda konteks kalimat ini bagaimana tentu kamu akan sakit hati. Terlebih saat itu aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku.

Sontak aku diam, malas menanggapi dan dengan segenap keberanian aku jawab,

“Kenapa manggil saya maneh?”

Dia hanya diam tidak menjawab masih dengan tatapan penuh kebencian. Kemudian menyuruh aku untuk mengambil barang. Habis itu karena aku keburu sebel, benci jadi permintaannya itu aku abaikan dan aku malah lari menuju masjid.

Aku menangis sesegukan di samping mimbar masjid. Entah apa dosa dan salahku hingga si pemilik yayasan tempat aku bekerja ini berkata kasar dan ketus padaku. Staff yang lain bilang harap dimaklum sudah tua. Tapi kalau sudah jadi kebiasaan apa bisa dimaklumi? Aku juga manusia yang memiliki hati nurani. Orang tuaku saja tak pernah memanggilku dengan sebutan kata ‘maneh’. Mentang-mentang karena aku seorang karyawan biasa yang digaji oleh yayasan sehingga si pemilik bisa semena-mena. Saat itu yang hanya bisa aku lakukan adalah menangis dan mengingat wajah kedua orang tua.

Ingin sekali saat ditelfon itu aku menceritakan segalanya. Tapi semua kata itu terhenti di mulut dan hanya bergejolak dalam hati. Sudah cukup beban mereka masa harus ditambah beban lagi? Di satu sisi aku pun tak ingin merusak atmosfer kebahagian yang sedang tercipta di rumah. Kalau aku cerita sudah dipastikan aku diminta resign. Tapi kan kontrak kerja tidak bisa dibatalkan begitu saja.

Rasa iri dan minder pun mulai menggerogoti hati dan fikiran.

Ma, Pa nyesel gak ngelahirin aku ke dunia?

Maaf belum bisa membanggakan kalian berdua.

Kuliah belum tamat malah nambah semester

Kerja dimarahin atasan mulu.

Tubuh gendut, gak cantik pantas aja belum ada yang lamar ke rumah.

Astaghfirullah.

Meski aku tau kedua orang tuaku akan melindungiku jika aku membongkar semua penderitaanku di dunia kerja ini. Walau begitu, aku sudah jahat pada mereka. Memberikan beban dan luka yang akan mereka ingat hingga ajal menjemput.

Maaf untuk segala dusta yang diucap,

Sumber gambar:

www.pixabay.com

2 thoughts on “Pura-Pura Tak Terjadi Apa-Apa”

  1. Wajar saja kalau kamu menangis ketika dimarahin oleh pemilik yayasan tempat kamu kerja, kamu manusia wajar sekali untuk bersedih. Aku salut sama kamu sudah kuliah dan kerja, kamu juga kuat masih aja bertahan kerja disitu. Mungkin kalau aku jadi kamu udah gak betah kayaknya. Rasa minder memang selalu ada ya dalam diri manusia aku juga sering ngerasain itu. Semoga dipermudah dan semoga saja pemilik yayasan itu lama kelamaan sadar dan gak bentak – bentak kamu lagi. Berat juga kalau jadi kamu harus menghadapi dan dibentak-bentak oleh pemilik yayasan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *