Berbincang dengan Diri

Pelampiasan ke Matematika karena Patah Hati – Part 2

Tulisan ini adalah lanjutan dari kisah sebelumnya. You can click here.

Menginjak awal-awal semester dua itulah aku harus banting tulang buat mengerjakan seluruh soal-soal yang ada di dalam buku LKS Matematika itu. Bahkan tanpa ragu aku pun jadi sering minta bantuan ke temen aku yang cowok itu, yang dia pinter banget Matematika. Pepatah bilang, cinta akan hadir seiring dengan seringnya kita berinteraksi dengannya. Nah hal itu rupanya terjadi padaku. Diam-diam aku menaruh hati pada si cowok temen aku ini. Tiga sampai empat bulan terlewati akhirnya aku bisa menyelesaikan soal-soal yang ada di dalam buku itu dan lumayan rada faham, meski emang belum bener-bener faham dan hati aku masih jengkel setengah mati atas insiden ini. Hari itu aku pun mengumpulkan tugas-tugas kepada guru Matematika ku.

“Waktu itu kamu gak hadir ya pas remidi? Coba aja hadir. Nilai kamu gak akan sehancur sampai harus ngerjain soal sebanyak ini.” Ucap guruku itu sambil menerima tugas-tugas Matematika milikku.

“Lho Bu saya hadir kok Bu. Saya juga ngerjain sama temen-temen yang lain Bu.”

“Oh ya? Tapi kertas remidi kamu gak sampai ke Ibu. Dan waktu itu yang minta remidi cuma si Bunga dan Bintang.”

Sontaklah aku lemes dengernya. Jadi gegara aku gak minta maaf sama beliau ditambah hasil pekerjaan remidiku waktu itu gak sampai alias hilang?

Nasi sudah menjadi bubur. Ya mau bagimana lagi? Toh semua tugasnya udah aku kerjakan.

Meski tugas Matematika sudah selesai namun komunikasi di antara aku dan temen cowok aku itu tidak terputus, bahkan menjadi lebih dekat. Sampai suatu malam dia menyatakan perasaannya dan aku bingung untuk menjawabnya. Ok baiklah! Aku memutuskan akan menyampaikan jawabannya itu esok hari di sekolah. Dengan perasaan gembira bercampur aduk dengan rasa gugup yang menjalar aku mencoba untuk mengajaknya berbicara empat mata dan kamu tahu bagaimana reaksinya? Dia menghidar! Setiap kali aku singgung obrolan tentang sms semalam itu dia menghindar dan enggan untuk membahasnya, hingga dengan tegas dia mengatakan padaku,

“Maaf saya mau fokus dulu belajar.”

Lha? Terus sms semalam? Maksudnya apa? Masa iya perasaan bisa berubah begitu cepat hanya dalam hitungan jam?

Beberapa hari kemudian gegara kejadian itulah hubungan pertemanan aku dan dia menjadi renggang. Hingga sebuah alasan terungkap.

Maaf waktu itu saya terdorong nafsu dan terlalu mengagumimu. Maaf.

Dengan kesal aku hanya membiarkan pesan itu dan besoknya sesuatu hal terjadi diluar dugaanku! Dia ternyata jadian sama teman satu kelasku yang lain dan jadiannya itu esok hari setelah semalam nembak aku lewat sms! Aku geram bukan main saat menerima kenyataan itu. Dengan segala keberanian dan mengenyampingkan rasa malu aku mengirim pesan padanya,

Maksudmu apa? Malam nembak aku besoknya jadian sama yang lain? Emangnya hati aku barang yang bisa dibeli dan diambil kapanpun kamu mau? Egois jadi orang!

Detik berlalu, menit berjalan dan jam yang mulai berlalri hp nokia jadulku saat itu masih saja sunyi senyap. Tak ada notifikasi  bahwa sebuah pesan masuk. Dengan hati yang masih kesal aku kembali lagi mengirimkan pesan,

Kenapa gak bales? Takut nyakitin aku gegara alasan yang kamu bikin? Basi! Aku udah sakit hati duluan sama sikap egois kamu! Makannya kalau mau bilang cinta jangan setengah-setengah! Kalau sekiranya masih setengah-setengah simpan dulu semua perasaannya biar full antara emang bener cinta atau cuma nafsu belaka!

Satu jam kemudian sebuah notifikasi pesan berbunyi.

Status palsu. Maaf!

Dia balas gitu doang? Shit!

Aku tau hatiku sakit, harapanku pupus, bahkan aku kecewa berat atas perlakuannya itu padaku. Aku pun gak bisa balas perbuatan jahatnya itu. Lagi pula dengan aku jadian sama orang lain gak akan bikin dia nyesel, toh faktanya dia gak cinta sama aku, dia cuma kagum aja sama aku. Udah itu yang mau jadi pacar aku siapa? Gak ada! Hahaa. Aku pun memikirkan hal lain. Dengan cara apa ya aku bisa membuatnya kecewa? Hingga akhirnya aku memutuskan untuk balas dendam lewat pelajaran Matematika.

Setelah ajang patah hati itu aku kembali rajin mempelajari soal-soal Matematika. Di kelas aku pun tak sungkan untuk bertanya langsung pada guru Matematika ku yang ternyata beliau orangnya asik tak seseram seperti yang dibayangkan sebelumnya. Pelan-pelan aku mulai bisa memecahkan soal Matematika meski ditengah perjalanan aku sempat protes lantaran masih saja tidak faham dengan materi yang sedang dipelajari.

“Bu kenapa harus belajar persamaan x,y x,y? Kenapa harus x,y x,y? Kayak gak ada abjad lain.” Celetukku dengan kesal. Namun guru Matematika ku hanya diam sambil tersenyum.

Lantaran si x,y x,y ini adalah materi yang paling sulit aku fahami, dengan segenap hati dan perjuangan penuh aku belajar tekun mempelajari soal-saol ini. Lambat laun mulai faham hingga akhirnya aku faham dengan sendirinya dan saat di kelas itulah aku bisa maju ke depan memperlihatkan hasil pekerjaanku sendiri kepada guruku itu dan nilainya 100.

Saat aku tersenyum bahagia dan kegirangan, dia mulai menoleh ke arahku dengan tatapan dingin. Kenapa? Merasa tersaingi? Hingga akhirnya yang biasanya dia yang sering dipanggil oleh ibu untuk mengerjakan soal kini giliran menjadi namaku yang disebut. Dan tak jarang aku dan dia berada di depan whiteboard bersama untuk mengerjakan soal dan terkadang membuat pacarnya itu cemburu setengah mati.

Tak lama kabar mereka berdua putus dan perjalanan Matematika ku makin mulus. Teman-teman satu kelasku kini sering minta diajari olehku dan bahkan teman-temanku tak menyangka jika yang pada awalnya nilai Matematika ku hancur kini bisa jadi nomor satu di kelas.

Aku tersenyum jika mengingat moment ini. Bisa jadi saat aku menjalaninya dulu semua itu terasa sangat menyakitkan dan aku berifikir Allah itu gak adil. Namun saat ini aku hanya bisa bersyukur atas kejadian yang menimpaku dulu. Sebenarnya Allah pengen banget aku bisa Matematika cuma ya jalannya dengan patah hati dulu.

Sincerely,

Sumber gambar:

www.pixabay.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *