Diary of Jamillah

1 – Diary of Jamillah

Previous chapter Prolog

“Ukhti… Ukhti..”

Itulah panggilanku di sini, Ukhti yang artinya saudara perempuanku. Ukhti Jamillah.

What happened?” Aku yang tengah berjalan di tengah lapang sehabis piket kegiatan belajar mengajar atau yang biasa disingkat KBM  langsung menoleh ke belakang. Aku menjawabnya menggunakan bahasa Inggris. Di Pesantrenku memang harus dibiasakan untuk berbicara bahasa arab ataupun bahasa inggris.

I want to call my mom,” ucap Lina, salah satu santri asuhku sambil mencium tanganku. “May I?”

“Ok after ashar. I will wait you in my room.”

“Thank you my ukhti yang cantik!” Lina memelukku dengan girang sebelum akhirnya ia pergi duluan meninggalkanku berjalan sendiri.

“Huuh! Dasar anak-anak ada maunya aja muji!” Rutuku dalam hati.

“Ukhti.. Ukhti..”

Tak lama segerombolan santri asuhku memanggil-manggil namaku dari tangga kelas. Pasti! Kalau enggak minta telfon pilihan keduanya ya minta izin keluar pondok!.

***

Begitulah segelintir tugasku sebagai pengasuh di pondok pesantren. Ini adalah tahun ke empat aku menjadi pengasuh di pondok ini dengan santri asuh yang sama tak pernah berubah. Hal ini bertujuan supaya kita lebih faham dan tahu psikologis mereka. Jadi mengasuhnya lebih mudah karena sudah mengetahui karakternya seperti apa.

Aku segera rebahan di atas kasur setelah sampai ruangan. Sementara itu beberapa temanku yang tidak bertugas mereka sedang bersantai ria di atas kasur sebelum beberapa menit lagi anak-anak akan mengetuk pintu memanggil siapa saja yang menjadi wali asuhnya. Entah itu karena untuk menelfon, mengambil uang, atau izin keluar pesantren untuk keperluan pribadi.

“Ih Jamilah ninggalin!” Rutuk Naura yang baru sampai di ruangan sambil menyimpan sepatu di rak sepatunya yang berwarna merah.

“Habis anak-anak aku berisik. Jadi aku buru- buru pergi.”

“Oh iya.” Naura menghela nafas panjang. “Hei! Aku punya info baru!” Naura segera membuat pengumuman kecil membuat semua orang mengalihkan fokusnya hanya kepadanya. Itulah kebelihan Naura. Suaranya bisa didengar dan dilaksanakan.

“Apa?” Sarah mengalihkan fokusnya dari handphonenya.

“Apa Teh Naura?” Hana yang sedang tiduran di kasur atas langsung duduk dan menengok ke bawah.

“Tadi Ustadzah Risna bilang temen aku ada yang mau ke sini jadi guru BK.”

“Cewek?” Tanya Sarah.

“Bukan. Cowok. Namanya Azzam. Ganteng lho! Itu mantan temen aku yang sekarang lagi deket sama anak Pimpinan Pesantren.”

“Oh ya?” Hana antusias menyimak. Sementara aku hanya diam sambil mendengarkan.

“Iya ih. Dulu itu mereka pas lagi sekolah pasangan ter-ter pokoknya. Eeh, tapi pas kuliah mereka putus.”

“Kenapa mereka putus?” Tanyaku.

“Katanya sih urusan materi. Tapi gak tahu juga.” Naura duduk di pinggir kasurku.

“Wahh.. Jamilah langsung gercep nih kalau liat yang ganteng. Iya enggak?” Sarah mulai menjailiku.

“Apaan sih,” jawabku sebal.

“Enggak apa-apa sih Jamilah mau gercep juga tapi masalahnya Azzamnya mau enggak? Hahaa..” Teman-temanku malah mentertawaiku.

“Palingan nanti sakit hati lagi. Udah enggak usah ngejar-ngejar yang ganteng. Mang Dede tuh masih single. Hahaa..”

Sekali lagi teman-temanku kembali tertawa. Mang Dede adalah tukang bersih-bersih di Pesantren yang usianya berkisar antara 27 sampai 30 tahun. Aku cuma bisa diam malas menanggapi bullyan mereka. Uuh! Mentang-mentang udah pada punya calon!

***

Kehadiran Azzam, teman satu angkatan Naura benar-benar menggegerkan seantero Pesantren. Apalagi santriwati yang langsung melihat kedatangannya mereka menjerit histeris membuat aku yang sedang berada di ruang piket KBM langsung berjalan berdiri di ambang pintu. Penasaran sekaligus ingin membuktikan seganteng apa sih sosok Azzam itu.

“Tuh Azzam!” Naura menunjukku dengan dagunya kearah Azzam yang sedang mengobrol dengan Pimpinan Pesantren di depan ruang Tata Usaha dan ternyata yup! Azzam memang ganteng. Dan ini sangat sulit dideskripsikan.

Ukhti.. Itu Ustadz baru ya? Ganteng banget!” Ucap seorang santriwati yang sedang mengisi boardmaker di ruangan piket.

Aku cuma senyum malas menjawab lalu kembali duduk di kursi.

Ukhti emangnya itu mau jadi guru apa?”

“Denger-denger sih guru BK.”

“Yah.. Palingan jadi guru BK di santri laki-laki.” Jawan temannya itu. “Ya udah Ukhti, syukran ya.”

Afwan.”

***

2 thoughts on “1 – Diary of Jamillah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *