Berbincang dengan Diri

Membuka Luka Lama

Mengapa kita bertemu

Bila akhirnya dipisahkan

Mengapa kita berjumpa

Tapi akhirnya dijauhkan

Kau bilang hatimu aku

Nyatanya bukan aku

Yofie & Nuno-Sempat Memiliki

Pernah enggak sih kamu nyesel gegara kamu ketemu sama orang itu? Atau misal nyesel pernah percaya sama ucapannya? Atau yah bentuk-bentuk penyesalan yang akhirnya selalu menyisakan tanya seperti di lirik lagunya Yofie & Nuno-Sempat Memiliki.

Aku pribadi sih, yes I’ve. Sebuah tunjuk yang saat itu mengarah padanya ternyata mempengaruhi kisah hidupku selanjutnya, bahkan hingga ini masih saja berlanjut. Entah aku bertemu siapa, ujung-ujugnya pasti kamu lagi kamu lagi. Padahal di ujung belahan dunia sana, kamu udah lupain aku kan?

Hari itu usiaku tiga belas tahun. Bocah ingusan, abg labil, dan masih jauh untuk mengerti apa itu arti dari sebuah kepercayaan. Aku ditunjuk oleh sekolah untuk mengikuti sebuah lomba, tujuannya ya pasti untuk bisa membawa pulang piala. Tapi rupanya Tuhan punya rencana lain. Aku kalah, aku demam panggung, aku menangis saat turun panggung, kemudian hiburan dari teman aku itulah tanpa berfikir panjang aku menunjukmu dan bilang,

Aku suka sama Aa itu.

Cukup sampai di sana. Cukup. Karena aku tahu kisah itu hanya sebatas tunjukan jari untuk menghibur kegagalanku di atas panggung.

Dua bulan berlalu.

Aku yang terpilih sebagai Ketua OSIS putri di sekolahku mendapat sambutan hangat dari teman-temanku. Termasuk saat malam itu, sebuah pesan masuk. Kamu yang memperkenalkan diri dan aku yang mengizinkanmu masuk ke dalam hidupku. Kamu berkenalan denganku hanya gegara jabatan yang aku emban bukan?

Aku kira semua akan usai di sana, nyatanya tidak. Kamu kerap mengirimiku pesan meski sebenarnya aku takut pesanmu itu akan ketahuan Bapak. Facebook yang saat itu baru muncul dan aku adalah pengguna baru dengan gerak cepat aku mengetik namamu di kolom pencarian dan betapa terkejutnya aku saat pencarian itu berhasil menemukan akunmu. Photo itu aku klik dan wajah itu…

Aku melongo sendiri di depan laptop temanku saat itu. Kamu yang selama ini selalu mengirimiku pesan adalah kamu yang dua bulan yang lalu yang aku tunjuk? Bagaimana? Tentu! Aku senang bukan main.

Meski aku harus mencuri-curi handphone jadul Nokia milik Bapakku saat malam hari demi melihat dan membalas pesanmu, aku bahagia saat itu. Support yang selalu kamu kirimkan, kabar yang selalu kamu tanyakan, juga perintah agama yang selalu kamu ingatkan untukku membuat aku merasakan indahnya hidup untuk pertama kalinya. Meski jarak yang memisahkan, pertemuan yang belum kita jalani saat itu, tapi entah mengapa pesan-pesan itu selalu saja datang meski dengan nomor yang berbeda. Aku tanya saat itu,

Kenapa nomornya sering diganti A?

Kamu jawab,

Iya, Aa kan di asrama gak boleh bawa hp. Jadi pinjem punya temen hehee. Maaf ya.

Dengan penuh percaya diri aku bertanya,

Mm… Berarti Aa hafal nomor aku dong?

Dan aku tak perlu malu karena jawabannya adalah,

Hehee iya hafal.

Hingga suatu malam, ungkapan itupun meluncur dari pesan yang dikirimnya,

Ihat mau gak kita saling percaya? Ihat percaya sama Aa, begitupun Aa percaya sama Ihat.

Aku yang saat itu masih abg labil hanya mampu mengerutkan kening dengan hati yang berdebar-debar,

Maksudnya A?

Iya harapan buat saling percaya

A maaf Ihat harus istirahat soalnya udah malam.

Malam itu pesan diantara kita harus terhenti lantaran Bapak sudah mengambil handphonenya dan menyuruhku agar segera beristirahat. Keesokan paginya aku mencoba mengendap masuk ke kamar orang tua dan mengecek pesan yang masuk. 

Oh ya udah kalau Ihat gak siap. Cuma Aa punya harapan ke Ihat biar Ihat bisa nemenin Aa terus.

Perasaan hangat menyusup dalam hati. Ucapan yang menenangkan. Meski aku tak tahu jika pada akhirnya ucapan ini yang menjadi boomerang di kehidupanku selanjutnya.

Setelah pesan itu lah akhirnya kita menjalin hubungan tanpa status lantaran sebuah pertemuan yang belum bisa terwujud. Aku yang terlalu takut untuk sebuah pertemuan dan kamu yang tak pernah meminta agar pertemuan itu terjadi. Semua berlalu cepat hingga akhirnya kamu pergi menghilang begitu saja menyisakkan ribuan tanda bagiku.

Ibaratnya kamu yang mengajakku pergi ke hutan lantas setelah masuk kamu pergi meninggalkan aku begitu saja hingga aku tersesat dan harus berjalan sendiri mencari jalan keluarnya. 

Meski maaf pada akhirnya kamu kembali, namun nyatanya aku terlanjur kecewa atas sikap yang telah kamu lakukan padaku.

Tahun berganti, kita sama-sama menginjak masa putih abu meski tetap berada di tempat yang berbeda. Entah apa maksudmu saat itu, meski jarang kamu masih tetap saja menanyakan kabarku, menanyakan studiku. Dan jujur saja aku muak dengan segala pertanyaanmu itu. Aku benci!

Dan semesta punya caranya tersendiri. 

Saat aku mulai memasuki usia dewasa, Tuhan mempertemukan kita di tempat yang memang tak pernah aku bayangkan sebelumnya aku bisa tinggal di tempat itu. Jika sebelum pertemuan itu kamu masih hangat padaku meski lewat chat, naas. Saat pertemuan itulah tiba-tiba kamu menghindar, membalas chat hanya ala kadarnya dan itu berubah begitu cepat. Oh apakah saat pertemuan itu kamu kecewa atas fisik yang aku miliki? Atau kamu merasa gengsi atas pekerjaan yang akan aku lakukan?

Kembali lagi. Kembali lagi.

Tapi ini aku dihempaskan begitu jauh.

Dan jawaban atas pertanyaan teman-temanku itu terlalu menohokku, entah ragu atau gugup kamu bilang,

Iya kenal, dulu.

Aku yang saat itu mencoba mendengar dan juga mengintip dari balik lemari hanya diam sambil menghela nafas berat. Terasa sesak memang jika harus diingat. Mengapa harus ada kata dulu? Oh, benar aku hanya pernah ada di masa lalumu bukan saat ini.

Meski kamu hanya singgah di tempat ini dan tahun-tahun berikutnya kamu melakukan hal yang sama sungguh kehadiranmu adalah luka bagiku. Aku harus menerima perlakuan mu yang tidak adil terhadapku. Bagaimana bisa? Kamu sangat akrab dengan teman-temanku giliran aku? Kamu jelas mengabaikan aku, bahkan tiap kali papasan kamu sering sekali membuang muka. Ya Tuhan, aku benci kejadian dulu. Aku nyesel! Aku nyesel pernah kenal dan dekat denganmu.

Dan entah di tahun ke berapa itu kamu kembali lagi hadir di tempatku ini. Menetap untuk belasan purnama. Dan sungguh acara move on yang sudah aku bangun jauh-jauh hari harus roboh begitu saja. Berada satu ruangan denganmu setiap harinya membuat duniaku nyaris seperti sedang naik roller coaster. 

Sincelery,

Sumber gambar:

www.pixabay.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *