Diary of Jamillah

2-Diary of Jamillah

Previous chapter
Prolog
1-Diary of Jamillah

Pesona Azzam benar-benar mengalihkan dunia santriwati! Ehh.. Lebai banget ya. Tapi emang begitu kenyataannya. Sampai-sampai santriwati asuhku bilang gini sehabis beres menelfon orang tuanya,

Ukhti mau deh minta sama Allah buat Ustadz Azzam jadi imam aku nanti.”

Aku buru-buru memolotinya.

“Masih abg ngomongin imam-imam. Belajar yang bener!”

“Ahh.. Ukhti cemburu yaa takut kesaingan sama kita. Hahaa…”

Aku cuma bisa mendengus kesal mendengar kejailan santriwati asuhku satu ini. Sementara itu santri asuhku langsung pergi keluar dari ruang sekretariat sambil cekikikan. Sore ini bagian aku dan Naura yang jaga sekretariat. Tapi Naura sedang menengok santrinya yang sakit ke ruangan.

Kring…kring…

Telfon sekretariat berbunyi. Dengan malas aku mengangkat,

“Hallo,”

Tak ada jawaban dari telfon sebrang. Hanya terdengar suara receh anak-anak. Palingan satpam yang telfon minta umumin paket. Batinku.

“Eh.. Assalamu’alaikum.” Suara dari telfon sebrang terdengar asing di telingaku.

Wa’alaikum salam.” Palingan santri putra yang telfon minta panggilin sodaranya atau…

“Ini sama Ustadzah siapa?”

“Sama Jamilah.” Aku jawab jutek.

“Oh iya Ustadzah Jamilah saya Azzam.”

DEG!

Apa? Azzam? Enggak salah denger? Seulas senyum tersungging di bibirku.

“Oh iya ada apa Ustadz?” Suaraku kini berubah; riang gembira.

Afwan minta tolong ke kelas 12 sore ini jadwal pengetikan gitu ya, saya tunggu di Lab. Komputer.”

“Oh iya baik. Nanti saya sampaikan.” Jawabku lembut.

Syukran ya Ustdzah siapa tadi namanya?”

“Jamilah.”

“Iya ya, Ustdzah Jamilah. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.” Aku menutup gagang telfon sambil tersenyum.

“Telfon dari siapa Teh?” Tanya Farida santriwati kelas 12 yang sedang duduk di kursi sekretariat menunggu giliran telfon dari HP angkatannya.

“Dari Ustadz Azzam. Katanya kalian ditunggu sekarang di Lab Komputer buat pengetikan karya tulis ilmiah.”

“Wah beneran Teh?” Farida begitu antusias mendengarnya dan langsung mengumumkannya ke teman-teman satu angkatannya.

“Makasih ya Teh infonya. Nanti lagi biar kita yang angkat telfonnya ya Teh. Hehee.” Ucap Farida disambung cekikikan teman-temannya saat mereka bersiap menuju Lab. Komputer.

“Dasar kalian! Tuh sana cepet kerjain tugasnya yang bener!” Ucapku di ambang pintu.

“Siap Teh!”

Mereka pun berlarian menuju Lab. Komputer sambil tertawa bahagia. Uuhh dasar anak-anak ditungguin sama yang ganteng mah langsung gercep!

***

Semenjak Azzam sering telfon ke telfon sekretariat di jam-jam pulang sekolah, anak-anak kelas 12 jadi rajin menunggu di dekat telfon. Dan hal ini berlangsung ketika aku bagian jaga sore di ruang sekretariat.

Kring…Kring…

Telfon sekre berbunyi dan anak-anak kelas 12 langsung ribut rebutan mengangkat telfon.

“Hallo..”

“Siapa-siapa?” Tanya temannya yang ikut berdiri disampingnya. Sementara itu temannya yang mengangkat telfon hanya cemberut.

“Satpam. Disuruh callingin Anggia kelas 8 ada paket.” Jawabnya setelah menutup gagang telfon lalu menyalakan mic untuk memanggil Anggia.

Aku yang sedang duduk di kursi meja komputer sekre hanya bisa tersenyum menahan tawa.

Telfon pun berdering kembali namuan sayangnya anak-anak enggan untuk mengangkat telfonnya membuatku harus berdiri menghampiri telfon dan mengangkatnya.

“Hallo..”

“Assalamu’alaikum.”

“Eh, wa’alaikum salam.” Jangan-jangan Azzam lagi ini? Batinku.

“Ini sama Ustdzah siapa?”

“Jamilah.”

“Oh iya sama Ustdzah Jamilah lagi nih. Kebetulan mau minta tolong lagi buat anak kelas 12 sore ini jadi pengetikan enggak? Tolong ditanyakan ya, nanti telfon lagi saya aja. Saya standby di sekre rijal.”

“Oh iya baik Ustadz. Ini sama Ustadz Azzam kan ya?” Aku sengaja menekan kata Ustadz Azzam membuat beberapa anak kelas 12 yang sedang duduk di kursi sekre langsung menoleh ke arahku.

“Iya betul. Syukran ya sebelumnya. Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikum salam.”

“Tuh kan kenapa pas aku yang ngangkat malah dari pak Satpam giliran Teh Jamilah yang ngangkat aja dari Ustadz Azzam. Uuh..” Rutuk Nazwa anak kelas 12 sambil manyun membuat aku menahan tawa melihat tingkahnya.

“Makannya lurusin niatnya yang bener,” ledekku membuat Nazwa tambah manyun. “Eh itu tanyain ke temen-temenmu sore ini mau pengetikan enggak? Di tunggu ya jawabannya.”

“Oke Teh..” Nazwa langsung keluar dari ruang sekre lalu memberitahu teman-temannya yang lain.

“Teh.. Sore ini enggak bisa. Kita ada acara bagian keputrian.” Farida datang menghampiriku.

“Oh gitu ya ok nanti disampaikan ke Ustadz Azzamnya.”

“Lewat telfon sekre Teh? Biar sama aku aja hee..”

“Telfon sekre sini enggak bisa kalau nelfon ke yang lain bisanya cuma terima telfon aja.”

Raut wajah Farida mendadak berubah, cemberut.

“Tolong di wa aja atuh ya sama Teteh. Ada nomornya enggak Teh?”

Aku diam sejenak sambil mengecek hp dan aku baru ingat bahwa nomornya baru saja dimasukkan ke grup pesantren.

“Ada.” Jawabku sambil mencari nomornya di grup.

“Makasih ya Teh.” Farida pun berlalu menuju teman-temannya yang sudah berkumpul di lapangan depan gedung asrama.

Aku tersenyum saat mengetik pesan padanya.

Assalamu’alaikum

Ustadz ini sama Jamilah….

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

3 Comments

  1. Avatar
    Aliazme says:

    jadi g sabar nunggu lanjutannya 😛

    1. Avatar

      Hihii ditunggu ya kak )

  2. […] 2-Diary of Jamillah […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *