Diary of Jamillah

4-Diary of Jamillah

3-Diary of Jamillah

Sehabis sholat ashar berjamaah di masjid aku segera pergi menuju ruang sekretariat. Duduk di depan komputer lalu menyalakannya.

Teh kok Ustadz Azzam gak pernah telfon lagi ke sini sih,” keluh Nazwa yang sedari tadi duduk di samping telfon sekre.

“Enggak tahu tuh. Coba tanyain aja langsung ke yang bersangkutan.” Jawabku sambil membuka program perizinan di komputer. “Kamu gak sholat Wa?”

“Enggak Teh, lagi halangan.”

 “What’s your name?” Tanyaku pada dua orang santri yang sudah duduk manis dihadapanku sambil senyum-senyum malu.  

“Rindah Ukhti. Rindah and Haifa.”

Where are you going?”

“We are going to Slamet Store.”

What will you buy?”

Mm… We will buy soap and toothpaste.”

“Kenapa belinya enggak di koperasi?”

“Di koperasi habis Ukhti. Makannya kita ask for permission juga Ukhti.”

“Ok.” Selesai mengetik surat perizinan aku langsung mengeprintnya, menandatanganinya lalu memberinya cap stempel. “Nih. Don’t be late ok. Don’t forget balik lagi ke sini buat laporan.”

“Siap Ukhti.Thanks a lot. Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumsalam.” Jawabku dan aku melihat ke arah kursi dekat telfon sekre yang kini kosong tak berpenghuni.

From: Me
Anak-anak lucu banget nunggu telfon dari Ustadz katanya enggak ada aja 😀
From: Ust. Azzam
Masih pada di situ? Udah biarin aja. Biarin mereka nunggu. Saya kesel dari kemarin sore dijailin mulu sama mereka gak sopan.
From: Me
Maklum mereka kan pada nge fans sama Ustadz hehee 😀
From: Ust. Azzam
Hahaa nge fans dari mana? Awas gitu bisi jadi manusia gagang telfon nungguin telfon terus mah. 😀

Aku tersenyum menahan tawa saat membaca balasannya itu. Entah mengapa dari hari ke hari selalu saja ada topik yang dibahas. Aku kembali menaruh handphone di atas meja.

Dreet..Dreet…

Handphoneku kembali begetar pertanda sebuah pesan masuk.

From: Ust. Azzam
Ustadzah maaf tlg bilangin aja ke mereka sore ini jadi pengetikan di Lab seperti biasa. Tunggu dulu gitu ya saya masih di jalan.

Fokusku teralih saat anak-anak kelas 12 ribut di depan ruang sekretariat.

“Itu.. Itu Ustadz Azzam baru aja tiba. Ciee.. Khoirunnisa dapet bakso dari Ustadz Azzam.”

“Eehh..Ehh.. Ssstt.. Jangan kenceng-kenceng.”

Apa? Ustadz Azzam ngasih bakso ke Khoirunnisa?

***

Dan info itu langsung booming secepat kilat! Siapa sih di sini yang enggak tahu Khoirunnisa? Si cantik kalem, tinggi semampai, kulit putih, dan juga langganan juara kelas. Dan parahnya lagi, Khourinnisa ini kemarin habis putus sama pacarnya yang ganteng kalem abis dan juga pinter. Kadang aku juga aneh ya santri kok pacaran. Udah dihukum juga tetep aja mereka gak ada kapoknya. Backstreet. Hayoh kamu yang dulunya pernah mondok pacaran juga kan? Ngaku! Hehee bercanda deng.

“Itu si Khoirunnisa dikasih bakso sama Ustadz Azzam?” Tanyaku saat aku sampai di ruang tidurku.

“Iyah. Dapet bakso katanya. Gila ngincer santri langsung si Ustadz.” Ucap Rima teman satu ruanganku yang sedang rebahan di atas kasurnya sehabis pulang piket KBM. Dan entah mengapa aku tidak bisa mempercayai jika memang hal ini benar-benar terjadi.

***

“Jamilah anter aku dulu yuk ke warung sebentar.” Pinta Naura setelah bel berbunyi nyaring pertanda santriwati harus pergi ke kelas untuk belajar malam. Dan seperti biasa sebagai pengasuh kami di sini harus mengontrol mereka dan memastikan mereka minimal masuk ke kelas.

“Kenapa masih kefikiran soal Azzam yang ngasih bakso ke Khoirunnisa?” Tanya Naura tiba-tiba saat kami berdua berjalan pulang dari warung.

“Aneh aja sih,” jawabku.

“Nanti aku cerita habis kita kontrol kelas. Ok?”

Aku pun hanya mengangguk lalu kami berpisah untuk menyusuri setiap kelas sekaligus mengecek kehadiran mereka.

 

Avatar

De Ihat

Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *