2-Diary of Jamillah

Oh jadi ini nomornya Ustdzah Jamilah kan ya? Saya save nomornya πŸ™‚

Ada bunga-bunga bermekaran di hatiku. Astagfirullah udah stop Jamilah. Hus. Jangan baper dulu. Aku buru-buru menyadarkan diri sendiri dari khayalan-khayalan syetan.

Ternyata orangnya ramah. Batinku.

Teh udah dikabari kan ke Ustadz Azzamnya?” Farida tiba-tiba datang menghampiriku.

“Iya udah.”

“Makasih Teh,” Farida pun kembali bergabung bersama teman-temannya di lapangan.

Semenjak itulah anak-anak kelas 12 jika butuh sesuatu tentang info Lab. Komputer mereka pasti selalu mencariku untuk memastikan infonya iya atau tidak. Padahal jadwal pengetikan penggunaan Lab. Komputer sudah dibuat dan dipampang di papan informasi. Namun terkadang satu atau hal lainnya lah yang membuat mereka atau Ustadz Azzamnya tidak bisa hadir di Lab.Komputer.

Teh mau wa Ustadz Azzam.”

Di suatu sore Farida kembali mengunjungi ruang sekretariat dan pasnya lagi emang aku yang bagian jaga.

“Boleh.” Kataku lalu Farida meminjam handphoneku mengetik sendiri.

“Ini Teh udah. Syukran ya Teh.” Farida mengembalikan handphoneku. “Pas-pasan tiap butuh ke Ustadz Azzam pasti sama Teteh. Kenapa ya Teh?”

“Kebetulan aja kali.” Jawabku menutupi hatiku yang dag-dig-dug mendengarnya. Apakah ini pertanda? O.. Stop Jamilah! Berfikir yang logis. Dia siapa kamu siapa!

***

Bukan modus atau apalah itu namanya jelas-jelas sekarang aku dan Azzam jadi sering bertukar pesan via chat WhatsApp. Terkadang aku tak bisa menyembunyikan betapa bahagianya aku: sambil senyum-senyum sendiri tiap membalas pesan darinya. Hal inilah yang membuat teman-temanku satu ruangan jadi curiga kepadaku.

“Aaaa.. Sini hpnya chatingan mulu. Sama siapa sih?” Naura merebut handphoneku lalu membaca isi chat antara aku dan Azzam.

“Iih siniin hpnya!” Aku berusaha untuk merebut handphoneku tapi Naura malah melemparkan ke Sarah.

“Pantesan sunyam-senyum sendiri da chattan sama Azzam. Eh, Jamilah jangan baper dulu dia emang gitu ke semua orang juga.” Ucap Naura mengingatkan.

“Iyah baru chattan segini aja udah baper. Huu.. Nanti teh sakit hati lagi.” Tambah Sarah buat kupingku terasa panas mendengarnya.

“Apa-apa?” Hana yang sedang asyik mendengarkan musik dari handphonenya segera melepas hedseatnya lalu membaca isi chatanku.

“Lah… Ustadz Azzam gak akan tergoda sama Jamilah. Kalau sama aku baru tergoda,” ucap Hana sambil bercanda tapi terasa menusuk hati.

Dengan kesal aku merebut handphoneku dari tangan Hana, “Iya udah gak usah dibaca gak sopan!” Ucapku ketus lalu pergi keluar meninggalkan ruangan dengan hati yang dongkol.

Emang kalau ngomong gak pernah disaring. Apa perlu aku kasih saringan tiap mereka ngomong? Mentang-mentang wajah cantik. Iya bercanda tau tapi gak sampe segitunya juga kali. Tanpa aku sadari air mataku perlahan jatuh membasahi pipiku. Begitu hendak masuk keruangan santri asuhku aku buru-buru menyeka air mataku.

Iya tahu aku emang gak cantik, aku gendut, jerawatan terus apalagi?

Aku menyunggingkan senyum terbaikku sebelum menyapa santri asuhku.

Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikum salam. Ukhti..” Anak-anak santri asuhku bangkit dari aktifitasnya lalu berhamburan memelukku bergiliran.

***

Sebenarnya masalah lebih sering terjadi antara aku dan teman-temanku satu ruangan ketimbang dengan anak-anak asuhku. Bahkan tempat melepas penat terbaik dari ocehan teman-temanku adalah dengan bermain ke ruangan anak-anak, mendengar curhatan mereka habis itu selalu ditawari makanan dan akhirnya makan bersama diruangan.

Saat tengah bercerita dan berkumpul di lantai bersama aku mendapati satu santriwatiku yang hanya duduk di kasurnya dengan wajah murung. Aku menghampirinya lalu duduk di pinggir ranjang kasurnya.

Why don’t you join us?” Tanyaku. “Are you ok?”

“I’m ok Ukhti,” jawabnya sambil senyum setengah dipaksa.

Hmm.. I think no. You can tell me if you want.”

“Actually, mm. This semester I won’t go back to my home.”

“Why? Every person always miss their home and they wanna go home. Ini ada sesuatu yang aneh nih.” Aku berusaha menatapnya tetapi santri ku itu malah terus membuang muka, menghindari untuk bertatapan denganku.

“Aku gak betah tinggal di rumah Ukhti. Di rumah sepi gak ada orang. Papah sibuk kerja, mamah juga. Nanti enggak bisa have breakfast bareng lagi like here. Or kumpul-kumpul kayak gini rame sama temen-temen.”

Aku hanya bisa senyum, bingung mau menjawab apa dan akhirnya aku hanya bisa memeluk pundaknya.

Your parents kan cari uang juga buat biaya sekolah kamu, buat biaya jajan kamu, and anything.”

“Tapi Ukhti emang enggak bisa ya ngeluangin waktunya sedikit aja buat anaknya? Kalau boleh dituker, aku mau waktu mereka ada buat aku dari pada cuma terus-terusan dikasih uang. I need my parents not their money.”

Aku diam seribu bahasa mendengar pengakuannya. She is a student third grade of Tsanawiyyah (Junior High School). Lalu aku harus jawab apa? Aku sendiri enggak pernah ngalamin posisinya seperti itu. Kan bingung mau nasehatin juga.

Akhirnya dari pada memberinya nasihat aku lebih memilih mengusap bahunya perlahan hingga santri asuhku itu memelukku dan menangis dipelukku.

Terkadang seseorang hanya butuh telinga kita untuk bisa mendengarkan keluh kesahnya.