Mengenangmu

Aku terhenyak begitu seorang gadis yang masih menggunakan seragam SMA menangis di meja kerjaku dan memohon dengan sangat padaku agar novel karangannya itu bisa lolos seleksi dan bisa diterbitkan. Aku tanya mengapa bisa sampai memohon-mohon seperti ini? Dia menjawab,

“Aku ingin balas dendam atas cintaku yang patah begitu saja.”

Aku terdiam sebentar dan mengangguk-anggukan kepala. Balas dendam yang bagus. Batinku.

“Saya tidak bisa menjanjikan. Jika karyamu ini layak kami pasti akan menerbitkannya.”

“Kira-kira saya harus menunggu sampai berapa lama Bu?”

“Mm… Sekitar satu bulan atau dua bulan. Nanti saya hubungi kamu lewat email ya.”

Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya lalu pamit pulang meninggalkan ruang kerjaku.

Sore itu langit Jakarta mendung. Selang beberapa menit rintikan hujan mulai turun membasahi bumi. Aku mengintip jalanan dari balik jendela kaca ruang kerjaku yang kini sudah basah oleh rintikan air hujan. Rupanya jalanan ibu kota mulai dipadati kendaraan yang hendak pulang menuju rumah mereka masing-masing. Aku malas pulang di jam-jam rawan macet seperti ini. Maka sore ini aku putuskan untuk membuat secangkir teh hangat sambil kembali melanjutkan membaca kisah yang ditulis oleh gadis anak SMA tadi.

Namanya Suci.

Gadis riang, supel, cerdas, dengan wajah jerawatan yang jatuh cinta pada laki-laki idola di sekolahnya tepat setelah laki-laki itu melempar senyum ke arahnya.

Satu bab telah usai aku baca dan fikiranku melayang pada kejadian tiga belas tahun yang lalu.

Aku pun sama.

Pertama kali aku jatuh cinta padamu adalah saat kamu tersenyum untuk pertama kalinya di awal jumpa denganku.

Catatan lama itu aku buka kembali. Begitu aku sampai di kontrakan rumah.

Lama tak jumpa. Kamu di manakah berada saat ini?

Photo by pure julia on Unsplash

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *