Hari Senin.

Seluruh siswa-siswi SMA Harapan berbaris rapih di lapangan mengikuti upacara bendera. Upacara kali ini lebih lama lantaran setelah selesai upacara ada pengumuman dan juga pembagian hadiah acara PORSENITAS. Kak Adit selaku sekretaris OSIS maju ke depan menyebutkan para pemenang. Dan aku tidak menyangka! Aku juara 1 lomba pidato mengalahkan Kak Monita, yang selama dua tahun berturut-turut menjadi juara 1.

“Kepada Rosa Octaviani dari kelas XI IPS 2 dan Monita Salsabila XII IPA 3 dipersilahkan untuk maju ke depan.”

Aku dan Kak Monita maju ke depan.

“Selamat ya!” Ucap Kak Monita berbisik di telingaku lalu tersenyum hangat sambil menggenggam tangan kiriku.

“Iya Kak terima kasih.” Jawabku dengan gugup. Begitu aku menoleh ke arah Kak Adit, aku melihat Arman yang bertugas sebagai sie. dokumentasi tersenyum ke arahku sekilas lalu kembali mengotak-atik kamera. Entah mengapa pagi ini Arman begitu tampan. Tubuhnya yang tinggi, atlentis, pintar, dan pendiam tentu membuat siswi-siswi di sini banyak menyukainya, termasuk aku tapi dulu. Ah sudahlah!

“Untuk penyerahan hadiahnya, saya persilahkan kepada ketua OSIS SMA Harapan. Saudara Reihan Akbar Putra dipersilahkan.

Hah? Kak Rei? Kak Rei yang ngasihin hadiahnya?

Aku panic sendiri begitu Kak Rei mulai maju ke depan dan siap menyerahkan hadiah perlombaannya. Fikiranku malah melayang pada kejadian sms kemarin soal ciuman.

“Selamat ya.” Ucap Kak Rei begitu menyerahkan hadiahnya padaku. Senyumnya yang manis membuatku diam membisu untuk beberapa detik.

“I..iya maa..makasih Kak.” Jawabku terbata-bata.

“Sebelum kembali ke barisan, mari photo bersama dulu. Saudara Reihan silahkan berdiri di samping kanan saja, di samping Rosa.”

What?!

“Gak usah gugup begitu. Kak Rei gak marah kok soal sms kemaren.” Bisik Kak Rei begitu berdiri di sampingku membuatku kesulitan bernafas. Jantungku berdegup cepat dan pipiku terasa panas. Aku tak menyadari jika Arman yang sedari tadi berdiri di depan kami semua menatapku tajam. Begitu aku melihatnya dia langsung membuang muka.

“Sie dokumentasi. Ayo langsung saja biar cepat.” Ucap Kak Adit mengingatkan Arman yang berdiri mematung di depan kami semua. Tanpa aba-aba Arman langsung memotret kami dan hanya cukup satu kali lalu dia kembali berdiri di samping Kak Adit.

“Sekali lagi selamat ya.” Ucap Kak Rei begitu aku akan kembali masuk barisan membuatku tersenyum sambil mengangguk kecil dan serasa terbang melayang ke angkasa.

***

created by uisng canva.com

“Selamat.” Ucap Arman dingin sambil menghampiri bangkuku lalu menyerahkan selembar kertas. “Ini kertas sertifikatnya. Dari Reihan.” Lanjut Arman dengan ketus.

Aku menerima kertas sertifikat yang berisikan apresiasi untuk para panitia acara PORSENITAS. “Makasih.” Jawabku sambil tersenyum.

“Jangan lupa nanti pulang sekolah ada kumpulan dulu di ruang OSIS.” Arman pergi begitu saja lalu duduk kembali di bangkunya yang berada di barisan pertama paling ujung.

“Apaan ini?” Tanya Intan merebut kertas itu dari tanganku lalu mengangguk-anggukkan kepala. “Cha, anter ke wc yuk. Pengen pipis nih. Mumpung si ibunya belum ada.”

Selesai dari wc begitu hendak menaiki tangga, aku dan Intan berpapasan dengan Kak Rei yang terburu-buru sambil menuruni anak tangga. Begitu melewati kami berdua dia tersenyum manis sekali membuat aku dan Intan diam melongo.

“Eh si Kak Rei makin hari senyumnya makin manis ya.” Lanjut Intan sambil senyum-senyum sendiri.

“Waah… jangan-jangan kamu suka ya…” Godaku.

“Suka senyumnya aja sih. Heheee… Lha kamu sendiri gimana?”

“Aku? Heheee. Gitu sih kayak kamu sama.”

“Udah beberapa hari ini aku jarang sms-an lagi sama Kak Rei. Kemarin aja dibalasnya sore itupun sebentar.” Keluh Lina. “Tapi gak apa-apa sih. Yang penting di balas.”

Aku hanya diam sambil mengangguk-anggukkan kepala. Sama sih. Kemarin juga dia balas pesannya pas sore.

“Cha, Cha tau enggak?” Tanya Lina begitu kami sampai di depan pintu kelas.

“Apa?”

“Si Rahma tau sekarang dia lagi ngincer siapa?”

“Siapa?”

“Adit. Adit XII IPA 1!”

“Hah? Adit, Kak Adit yang tadi ngumumin juara-juara?”

“Iya itu. Kemaren kan dia minta tolong sama aku buat mintain nomornya ke Kak Rei.”

“Hahaa gila emang!”

“Lha kita juga sama gilanya kan? Sama-sama ngincer anak kelas XII?”

Aku dan Intan pun tertawa bersama mengingat persamaan kami bertiga.

***

“Terima kasih kepada seluruh panitia PORSENITAS yang telah bekerja keras sehingga Alhamdulillah acara berjalan lancar dari awal sampai akhir. Berhubung Pak Budi hari ini tidak dapat hadir, jadi beliau meminta perwakilannya kepada saya untuk membubarkan kepanitiaan PORSENITAS. Dengan ini saya nyatakan kepanitiaan PORSENITAS dibubarkan.” Kak Rei mengetuk palu sebanyak tiga kali dan disambut dengan tepuk tangan dari seluruh panitia.

“Kamu pulang sama siapa Ca?” Tanya Kak Rei saat kami semua menuruni anak tangga untuk pulang.

“Saa…saya pulang sendiri Kak.” Jawabku gugup.

“Hm…” Aku langsung menoleh ke belakang dan ternyata itu Arman yang sedari tadi rupanya berjalan di belakangku. Si Arman ngapain sih?

“Eh Man, tuh si Ocha pulang sendiri. Anterin kali-kali.” Goda Kak Rei sambil merangkul bahu Arman.

“Dia bisa pulang sendiri kok Kak. Bukan bayi lagi,” jawab Arman ketus sambil melepaskan rangkulan Kak Rei dan berjalan duluan meninggalkan kami berdua.

Itu si Arman kenapa sih?

“Cemburu kali.” Ucap Kak Rei seolah menjawab isi hatiku. “Kalian pacaran kan?”

“Eh? Siapa kak? Saya sama Arman? Enggak.” Jawabku beruntun. Yang ada cintaku bertepuk sebelah tangan Kak. Arman gak pernah peka selama ini.

“Denger-denger dari anak-anak OSIS kelas XI sih gitu, katanya kamu sama Arman pacaran.”

“Gosip Kak.” Duh kok cepet banget ya beritanya berhembus kencang. Ini pasti ulah Zahra. Gak mungkin Intan comel. Lagi pula itu kan dulu. Maksudnya ya pernah suka. Ah udahlah! “Kak saya duluan ya,” begitu sampai gerbang aku pamit duluan pada Kak Rei.

“Oh iya hati-hati ya.” Ucap Kak Rei membuatku menoleh padanya. “Arman.” Lanjutnya sambil tersenyum jahil membuatku mendelik pura-pura kesal dan langsung berjalan terburu-buru menuju halte. Jantungku dag-did-dug tak menentu. Sial! Senyum itu lagi yang mampu melelehkan hatiku saat ini.

 

Image by Pexels from Pixabay