7. Arman Tahu?

Pagi ini hujan gerimis membasahi kota kelahiranku membuatku agak terlambat untuk datang ke sekolah.  

“Ini payungnya udah bawa.” Ibu menyodorkan payung bewarna ungu.

“Tapi Bu ribet bawanya. Udahlah pakai jaket aja ini. Lagi pula gerimis kok Bu.”

“Nanti kebasahan lama-lama, ntar di sekolah kamu malah masuk angin. Udah bawa nurut!”

“Iya Bu.” Jawabku pasrah sambil membuka payung dan berpamitan pada ibu lalu berjalan sebentar menuju jalan raya menyetop angkutan umum.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, dari pintu angkot aku membuka payungku. Benar kata Ibuku. Untung aku menuruti perkataannya. Nyatanya hujan justru makin deras begitu aku sampai sekolah.

Aku berjalan sendirian melewati lapangan sekolah yang sepi lantaran para murid lebih memilih diam di kelas. Beberapa di antaranya nongkrong di koridor kelas menunggu bel masuk berbunyi. Begitu aku menengadah ke atas, ke kelasku, aku justru mendapati Kak Rei sedang berdiri di sana sambil tersenyum. Aku hanya menelan ludah dan langsung menunduk kemudian berlari menuju tangga kelas.

Sial! Kenapa mesti sepagi ini di kasih senyum mautnya sih? Gila deg-degan gini!

“Kok jalannya buru-buru? Awas licin nanti jatuh.” Sebuah suara dari arah belakangku sebelum aku masuk ke kelas.

“Kak Rei?” Aku menoleh dengan hati yang berdebar cepat sementara itu Kak Rei hanya tersenyum lalu melewatiku begitu saja.

“Masih pagi.” Ucap Arman di ambang pintu.

“Apaan sih.” Kataku dan tanpa permisi aku melengos masuk kelas begitu saja.

***

Bel istirahat pertama berbunyi begitu anak-anak sekelas sudah pasrah dengan soal Matematika yang tiap soalnya beranak. Seperti biasa, aku, Intan, dan Rahma kita bertiga sudah merencanakan akan jajan apa hari ini.

“Cha, bagi nomor Kak Rei dong.” Ucap Rahma sambil membuka tas mengambil dompet.

“Buat?”

“Aku mau nomornya Adit.”

“Adit? Kak Adit maksudnya?”

“Iyalah siapa lagi.”

“Entar ya pas di rumah aku kirim.”

Kami bertiga berjalan keluar dari kelas menuju kantin. Begitu menuruni anak tangga, aku melihat Kak Risna dan Kak Monita hendak menaiki tangga.

“Cha, bisa kita bicara sebentar?” Begitu Kak Risna melihatku dan aku hanya mengangguk sopan.

“Cha?” Intan mengerutkan kening lalu aku memberikan sinyal kepada mereka agar mereka pergi duluan.

“Di depan kelas kamu aja ya?” Pinta Kak Risna lalu berjalan duluan disusul Kak Monita.

“Nomor itu kirim sms saya lagi semalam.” Kak Risna langsung membuka percakapan. “Dia bilang gini, hai kak ini aku Ocha sebelas IPS 2. Tadi siang kakak habis ngomong apa aja sama Kak Rei?”

“Hah?!” Aku kaget mendengarnya. Siapa sih dia?

“Iya saya balas gini aja, kamu ngaku-ngaku Ocha ya? Gak lama nomornya gak aktif.”

“Kamu pasti kaget kan?” Tanya Kak Monita setelah dari awal dia hanya banyak diam.

“Iya Kak, saya gak tau apa-apa. Semalem juga Kak Rei kirim sms saya nanya nomor yang sama Kak.”

“Oh iya. Kamu suka kirim sms sama Rei?”

Aduh ini jawabnya gimana lagi? Emangnya selama ini Kak Risna gak pernah baca pesan di hpnya Kak Rei ya? Oh atau Kak Rei suka langsung hapus sms-sms yang masuk? Mau jawab bohong entar gimana kalau ditanyain ke Kak Rei terus jawabannya beda?

“Risna?” Entah dari mana datangnya tiba-tiba Kak Rei datang. “Monit kamu dicari Pak Awan disuruh ke TU sekarang.”

Kak Monita pamit lalu berjalan duluan pergi menuju ruang TU meninggalkan kami bertiga.

“Risna kita makan bareng yuk.” Ajak Kak Rei pada Kak Risna sambil menggenggam tangan Kak Risna tepat dihadapanku.

“Ayo!” senyum semringrah terukir jelas dibibir cantik Kak Risna. “Kita duluan ya?”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum manis penuh paksa. Iya sih lagi pula siapa aku. Jelas banget mereka kan pacaran.

***

Sepulang sekolah aku langsung mandi lalu melaksanakan sholat ashar. Suara rintikan hujan turun terdengar begitu aku menyelesaikan rokaat terakhir. Aku merebahkan diri di kasur sambil memandangi langit-langit kamar yang putih bersih.

 Drett…dret…

Hp nokiaku bergetar. Sebuah pesan masuk.

Kak Rei: Hi Arman eh salah Ocha mksudnya. Cba tebak…. Apha yg dilakuin org law lg hujan?

Me: Apa ya? Lupa lg apa gtt jwbannya

Kak Rei: lupa or gk tau?

Me: Lupa lg L

Kak Rei: Eumm… jwban y adlah berteduh. Bis itu baru ngerjain yg laint. Eh.. suka xmx an sma Arman guak?

Me: skrg jarang

Kak Rei: Eumm… knpa jrang? Arman y udh m cwek laent ya?

Me: Mmm… kayaknya iya. Haa… Males aja ah.

Kak Rei: Ehh, btw Ocha ikutan ekskul apa?

Me: awalnya sih iktan silat, cumment keluar cpek. Lw kak Rei sndri iktan ekskul apha?

Adzan maghrib berkumandang berpapasan dengan batrei hpku yang melemah membuatku lantas mematikan handphone dan mengecasnya. Setelah sholat maghrib berjamaah bersama Bapak, Ibu, dan juga adikku kami semua melanjutkan dengan membaca Al-Qur’an lalu pergi ke meja makan untuk makan malam bersama. Meski menunya tidak banyak namun hal inilah yang selalu aku syukuri. Aku masih memiliki keluarga yang utuh.

Selepas melaksanakan sholat isya, aku mengecek jadwal pelajaran untuk besok, takut-takut ada tugas yang belum dikerjakan. Aku tersenyum manis dan langsung menyetel radio yang tersimpan di atas meja belajarku tak lupa mengambil buku harian. Menulis di buku harian sambil mendengarkan radio adalah hobiku setiap malam. Sebelum beranjak tidur aku selalu melakukan dua ritual ini. Saat sedang asyik-asyiknya menulis aku lupa bahwa handphone ku sudah hampir dua jam dicas. Aku buru-buru mencabut handphone ku yang dicas di samping kasur.

Drett…drett…

Tak lama setelah kuhidupkan sebuah pesan masuk.    

Kak Rei: Ea biasa iktan bola

Me: Ohh iyaa… Kak Rei lg apa?

Kak Rei: Biasa lagi santai smbl nonton TV. Klau Ocha lg apa?

Langsung dibalas nih! Aku tersenyum sendiri di atas meja belajarku.

Me: Lg nulis sambil dengerin radio

Kak Rei: Rajin nih. Nulis apa?

Me: Nulis d bku harian. Heheheeehhhh

Kak Rei: Oh.. ttup bukunya. Nanti Kak Rei ngintip  :p

Me: kalau bisa hahahaaa

Kak Rei: eh btw kak Rei minta maaf y akhir-akhir ini kak rei jrg bls sms Ocha. Soalnya kalau udh mlm Kak Rei udh tdr. Tp klo mlm ni Ocha pngen sms-an sma Kak Rei, kak Rei siap gdng deh.

Hah? Beneran? Tapi kenapa tadi siang dia menggandeng tangan Kak Risna tepat dihadapanku?

Aku membiarkan pesan itu tanpa membalasnya. Kejadian tadi siang sudah cukup membuat hatiku sakit.

Hah sakit?!

Dret… drett…

Satu pesan lagi muncul. Aku kira Kak Rei ternyata Arman. Arman? Ngapain dia sms aku malem-malem gini?

Arman: Psti pnsarannya sma nmr ini 082119098xxx

Mataku terbelalak begitu melihat nomor yang di maksud Arman. Bentar kok dia tau?

Me: apa emangnya?!

Arman: dih ketus bgt. Ya udh klau gk mau tw.

Ini anak kenapa sih nyebelin banget!

Me: ya udh trs siapa?

Arman: sya udh ngntuk mau tdur. Nnti aja d mimpi

What? Di mimpi?

Me: km ngeselin ya, bkin sya penasaran!

Arman: udh tdur aja, kn kta sya d mmpi. Bsk bangun tlat baru tau rasa.

Me: d mimpi?

Arman: yup. Jangan lupa mimpiin sya mksdnya gt.

Arman gila!

Author

De Ihat
deihatblog@gmail.com
Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6. Ini Siapa?

January 3, 2021

Selamat Revisian!

February 1, 2021