Harusnya Sadar Diri Sih!

Harusnya gitu dari awal. Iya harusnya sadar diri. Tapi kalau kita gak nyoba kita gak akan pernah tahu bukan?

Entah mendapat keberanian dari mana, sebelum janur kuning melengkung begitulah pepatah mengatakan, aku menuliskan sebuah surat berlembar-lembar untuk seseorang yang selama ini menjadi incaranku. Meski poisisinya lebih tinggi dari pada aku, aku tau kalau cinta tak akan pernah memandang status bukan? Kuputuskan malam itu dengan tergesa, aku mengirimkan sebuah e-mail ditengah kesibukannya memeriksa proposal-proposal dan skripsi mahasiswa bimbingannya.

Satu, dua hari, bahkan sampai seminggu tak juga kunjung ada balasnya mengenai e-mailku itu. Dia bilang dia akan membacanya jika waktunya sudah senggang. Well, he just said that he will read the letter not reply right? Maka seharusnya saat dia balas seperti itu aku tidak banyak berharap. Dan seharusnya lagi setelah isi hatiku disampaikan padanya, harusnya aku sudah tak memiliki beban lagi. Tapi kenapa perasaan ini semakin menggila?

Dua bulan sudah tak ada lagi pesan, notifikasi apapun darinya, apalagi balasan e-mail itu. Fix! My heart is broken. Tapi yang terjadi lagi-lagi aku menepis semua kenyataan itu dan kembali berdalih untuk menenangkan diri. Mungkin dia masih sibuk dan belum sempat membacanya. I always say it to my own self.

Gak ada orang sibuk di dunia ini. Yang ada dia enggak menyempatkan.

Aku sangat tertampar keras begitu temanku mengingatkanku akan hal itu. Temanku juga berkali-kali mengingatkan agar aku segera sadar, bangkit dari segala ilusi yang aku buat, dan juga menerima kenyataan yang ada bahwa cintaku memang benar-benar bertepuk sebelah tangan.

Setelah itu aku mencoba untuk sadar dan mengakui bahwa memang cintaku ditolak. Tapi iya aku masih memiliki tapi yang lain dan aku ingin balasan penolakan itu ada; jika benar dia menolakku. Bukan dengan cara seperti ini, dibiarkan begitu saja tanpa kunjung jawab. Argh! Ataukah dengan caranya seperti ini dia mengabaikan e-mail panjangku adalah jawaban bahwa dia memang tak mencintaiku? Tapi… Aku masih penasaran dan masih ingin memberinya lagi sebuah kejutan, tepat di hari ulang tahunnya nanti. Lagi-lagi temanku mengingatkan aku agar aku sadar dan tidak berbuat jauh lagi. Pengabaian atas e-mailku itu harusnya sudah cukup untuk menjadi jawaban tegas bahwa dia memang tidak memiliki perasaan untukku.

Oh iya satu hal lagi. Saat aku mencoba untuk mengetahui kabarnya lewat pesan WhatsApp, lagi-lagi menjadi penguat bahwa cintaku ditolak; dia dingin saat membalas pesan-pesanku, tak se-friendly dulu. Sudahlah aku hancur tapi arghh aku masih saja ingin memperjuangkannya dengan berbagai cara.

Hingga suatu hari fakta itu tambah menguat, dia meng-upload tulisan surat kecil dari temanku yang disematkan dalam sebuah kado untuk perpisahan sebelum wisuda datang. Sebuah surat dengan isi support yang ditulis tangan oleh temanku itu dia upload di status WhatsApp nya membuat hatiku hancur berkeping-keping. Aku tau aku egois. Tak seharusnya aku menyiksa diriku dengan hal gila lainnya.

Beberapa kali aku diperingatkan untuk mundur dan menyerah, tapi aku enggan untuk melakukan itu. Mengapa? Mengapa aku sangat sulit untuk sadar dan menerima kenyataan ini? Seringkali aku bertanya pada diriku sendiri, inikah cinta? Atau hanya obsesi semata?

Iya temanku benar, harusnya aku sadar diri. Sebenarnya aku juga sempat kecewa mengapa diam-diam temanku itu mengirim kado sebagai tanda perpisahan dan tidak memberitahuku dulu? Tapi fakta itu terbantahkan lagi karena temanku juga mengirim kado untuk yang lainnya juga tidak hanya untuk dia. Temanku bahkan meminta maaf atas kelancangannya, tapi memang benar aku pun tidak punya hak untuk melarang. Toh dia bukan siapa-siapanya aku. Kalaupun dia harus menyukai temanku tak apa, itu sudah terlihat dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin aku terlalu bego untuk mempertahankan semua rasa ini.

Iya benar. Seharusnya aku sadar diri. Aku siapa kamu siapa. Maaf sudah lancang mencintaimu bahkan mengirim e-mail untukmu.

Big hug,

Note: Thanks for sharing with me. I hope this post can help you! 🙂

Author

De Ihat
deihatblog@gmail.com
Hi! I'm Ihat. Here, I just want to share about my life, my thought, and also my feeling. Enjoy with me :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *