Catatan Harian

1. Mimpi yang Kandas

Posted on

Mungkin bisa jadi bagi orang-orang di sekitar saya, enam tahun yang lalu saya adalah orang bodoh, orang yang tidak tahu diri yang mengejar impiannya yang mustahil bisa dicapai. Saya bahkan hampir mempercayai dan meyakini bahwa impian saya memang mustahil bisa dicapai setelah memang kenyataannya saya tidak bisa meraihnya. Tapi saya tak kehilangan arah. Saya beri semangat untuk diri saya sendiri, saya hibur diri saya sendiri.

Jika tidak hari ini, masih ada esok hari. Jika tidak minggu ini, masih ada minggu yang lain. Jika tidak bulan ini, maka bisa jadi bulan esok akan bisa saya miliki. Atau yang paling pahit adalah jika tidak tahun ini, semoga tahun depan masih bisa diperjuangkan.

Awal tahun 2015.

Semester akhir di sekolah tingkat SMA. Saya sedang semangat-semangatnya memperjuangkan pendaftaran untuk masuk perguruan tinggi. Nilai raport saya Alhamdulillah tidak jelek-jelek amat, meski pada faktanya otak saya sebenarnya pas-pasan dan saya masuk ranking 5 besar. Saat itu sekolah saya baru mendaftarkan diri agar murid-muridnya bisa mengikuti test SNMPTN dan juga Bidikmisi. Itu baru pertama kalinya sedangkan saya dan juga teman-teman saya sudah bermimpi terlalu jauh, tidak melihat realita dan peluang yang bisa diraih.  

Didaftarkannya nilai-nilai raport dan juga sertifikat-sertifikat yang mungkin bisa membantu. Saat itu pilihan pertama saya jatuh pada Universitas Diponegoro jurusan Sastra Bahasa Indonesia. Sedangkan pilihan kedua saya jatuh pada Universitas Padjajaran dengan jurusan yang sama pula. Entahlah saat itu saya sedang menyukai pelajaran Bahasa Indonesia dan saya jatuh cinta pada setiap kata yang terangkai indah dalam novel. Imajinasi saya mulai bermain. Saya yang diterima di Undip, mendapatkan beasiswa Bidikmisi, nge kost di Semarang, berkenalan dengan orang-orang baru, mempelajari kehidupan baru di sana jauh dari orang tua. Wah pasti sangat mengasyikan.

Setelah asyik berandai-andai saya kembali disadarkan pada keadaan. Bagaimana kalau gagal dipilihan pertama dan malah mendapatkan pilihan ke dua? It’s ok. Batin saya. Buat jenjang S1 kan Unpad adanya di Jatinangor, gak terlalu jauh kok buat bisa ketemu sama seseorang yang selama ini saya cari. Semoga saja bisa ketemu dan saya bisa merangkai cerita indah di sana. Seperti  selepas pulang kuliah kalau ditaqdirkan bertemu mungkin sorenya saya bisa berjalan-jalan bersamanya di alun-alun Bandung. Atau menikmati ramainya kota Bandung sambil berjalan di sepanjang trotoar Jl. Braga.

Itulah khayalan-khayalan yang saya buat. Masih terlalu kanak-kanak dan tidak berfikir logis memang. Jika saya bisa kembali ke masa itu, saya ingin sekali memarahi diri saya dan berkata bahwa saya ini harusnya berfikir rasional. Otak pas-pasan, datang dari keluarga yang bisa dikatakan tidak mampu secara ekonomi, mengapa otak saya mudah sekali diracuni khayalan-khayalan fiksi yang selama ini saya baca?! Mungkin begitu kali ya yang namanya anak ABG, usia belasan yang terlalu tinggi menerbangkan diri hingga lupa bahwa dia masih berpijak di bumi.

Beberapa minggu kemudian pengumuman itu dibuka pada pukul 17.00.

Dengan berbekal uang tiga ribu rupiah dan masih berseragam sekolah, saya berjalan menuju warnet sambil menggunakan payung karena langit saat itu sedang hujan. Kata orang sih ya kalau lagi hujan terus kita berdoa maka doa kita akan dikabulkan. Maka sepanjang jalan mulut saya tak henti-hentinya berdoa agar hasilnya sesuai dengan keinginan saya. Harusnya saat itu saya berfikir, kan pasti sudah ditentukan ya siapa yang lolos dan tidaknya? Ngapain juga harus berdoa gitu kayak udahlah percuma. Cuma saya dulu berfikirnya kalaupun sudah ditentukan oleh panitia semoga saja ada keajaiban. Misal yang asalnya saya enggak lolos tiba-tiba pas saya cek lamannya jadi lolos. Dengan hati yang berharap-harap cemas saya memasukkan nomor pendaftaran saya dilaman tersebut dengan mulut komat-kamit, “semoga keterima Ya Allah. Semoga keterima.” Laman yang diakses pun terbuka dan mulut saya langsung terdiam begitu saja begitu mendapati warna merah di sana dengan tulisan kurang lebih seperti ini,

“Maaf anda dinyatakan belum lolos SNMPTN 2015.”

Saya hanya bisa menelan ludah begitu mengetahui faktanya saya tidak lolos. Waktu di layar komputer sudah menunjukkan 15 menit pemakaian. Masih ada waktu 45 menit untuk menghabiskan uang tiga ribu yang ada dikantong rok sekolah saya. Maka sisa waktu itu saya gunakan untuk mengecek akun Facebook saya. Semua teman saya rupanya tidak ada yang lolos dalam seleksi SNMPTN. Status yang berisi ungkapan kecewa dan juga kata-kata semangat ramai di beranda Facebook saya. Hanya ada beberapa yang saya lihat yang lolos. Itupun dari sekolah lain dan saya tidak mengenalnya. Dia meng-upload­ hasil kelulusannya. Di sana terlihat sebuah warna hijau dengan tulisan Selamat anda diterima di Universitas bla bla bla.

Saya pulang dengan langkah gontai. Namun saya tidak patah semangat. Masih ada SBMPTN. Saya harus daftar. Batin saya. Begitu sampai rumah orang tua saya bertanya mengenai lulus tidaknya maka saya jawab saya tidak lulus.

“Sudahlah gak usah dulu kuliah. Kuliah kan mahal. Sekarang aja udah gak lulus.”

“Saya kan pak ikutnya jalur Bidikmisi. Jalur beasiswa. Enggak! Saya akan tetap mengikuti seleksi lain.”

Sebenarnya orang tua saya sangat keberatan dengan pilihan saya untuk kuliah. Dengan alasan biaya. Hanya saja saat itu saya benar-benar tutup mata dan telinga. Saya tetap teguh pada pendirian saya untuk tetap bisa kuliah. Bagaimanapun caranya. Saya tidak memikirkan uang pada saat itu. Padahal kedua orang tua saya masih memiliki hutang bekas biaya sekolah saya.

Saat itu saya egois. Tetap lanjut dan tetap maju. Pendaftaran SBMPTN pun dibuka. Kesalahan selanjutnya kembali saya lakukan. Saya menanti-nanti pendaftarannya karena saya fikir masih lama waktu pendaftarannya dan inilah yang membuat malapetaka bagi saya.

Kuota lokasi ujian di kota kelahiran saya sudah habis. Saya satu-satunya yang mendapatkan lokasi ujian di Bandung sementara teman-teman satu kelas saya mendapatkan kursi ujian di Tasik. Sebenarnya saat itu hati saya benar-benar kacau bahwa pasti akan sangat sulit mendapatkan izin dari kedua orang tua saya. Belum lagi biaya berangkat ke sananya dan saya harus tinggal dimana di sana? Saya tidak memiliki sanak-saudara di daerah Buahbatu. Maka akhirnya selama satu bulan penuh saya menyisihkan uang jajan saya untuk bekal ke Bandung. Perdebatan-perdebatan kecil sering terjadi diantara saya dengan kedua orang tua saya. Bapak saya bilang, anak perepmpuan itu beda dengan anak laki-laki. Kalau anak laki-laki simple, berangkat sore dan bisa menginap di masjid terdekat. Anak perempuan mana bisa begitu? Kalau ada yang culik, memperkosa gimana? Sudahlah sendiri tidak ada teman. Bapak gak bisa ikut, Bapak tidak punya ongkos. Hutang bekas saya sekolah juga masih sangat besar. Tapi ya dasar saya waktu egois sekali keras kepala bahkan. Saya tetap aja keukeuh mau pergi ke Bandung. Apapun yang terjadi itu gimana nanti. Hingga akhirnya menjelang keberangkatan saya berdebat keras dengan Bapak saya hingga ibu saya mendadak sakit. Maka dengan berat hati akhirnya saya memutuskan untuk batal mengikuti test SBMPTN 2015.

Apa gunanya impian jika kenyatannya bertentangan? Choi Ae-ra, Fight for My Way (2017)

Photo by CHUTTERSNAP on Unsplash 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *